Tampilkan postingan dengan label Indigo??. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indigo??. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Mei 2010

Temanku Indigo






Kalian percaya dengan indera keenam? Gw percaya sih. Lalu, bagaimana dengan ramalan, penglihatan atau yang bahasa inggrisnya premonition? Gw sih rada-rada sangsi sama hal ini. Secara pribadi, gw punya prinsip kalau nasib itu hanya bisa diwujudkan dengan kedua tangan sendiri. Jadi, gw nggak percaya sama yang namanya peramal. Rasa penasaran sih pasti selalu ada. Maksudku, siapa sih yang ngga ingin tahu masa depan kita sendiri kayak apa? Gw dulu pernah juga datang ke peramal dan hasilnya malah bikin ngakak abis karena semua masa depan yang dia bilang sangat berlawanan dengan keinginan gw. Hal inilah yang semakin memperkuat prinsip gw untuk tidak mempercayai ramalan.

Tapi, beda dengan teman gw yang satu ini. Gw emang hanya kenal dia selama satu tahun kurang, tapi akibat berbagai banyak hal yang menerpa kita berdua, gw merasa kita udah berteman selama puluhan tahun lamanya. Gw rasa cuma dia yang bisa gw ceritain tentang semuanya dari A sampai Z. Kepribadiannya juga nggak seperti kaum hawa lainnya yang suka menceritakan rahasia orang lain. Karakter kita juga nyaris sama. Gw pun ngerasa nyaman berteman dengannya. Tapi, gw benar-benar nggak menduga kalau dia mempunyai bakat yang jarang dimiliki orang lain. Itu pun baru gw ketahui di hari-hari terakhir sebelum kepergiannya ke kota asalnya untuk selamanya.

Kalau ditanya, apakah gw percaya dengan ramalan dia atau tidak, gw pengen banget bilang nggak, tapi nggak mungkin. Masalahnya, sudah banyak bukti yang terjadi dan ramalan yang dia dapatkan bahkan tidak sama dengan peramal yang biasa kita temuin di kafe atau tempat lainnya di mana kita bisa mendapatkan ramalan dengan menyiapkan sejumlah uang tertentu. Temanku ini selalu mendapatkan secuplik gambaran masa depan secara tiba-tiba tanpa dia harus konsentrasi atau melihat kartu tarot terlebih dahulu. Semuanya benar-benar di luar kendali dia. Kalau kata dia, dia seperti melihat ringkasan film pendek di otaknya. Dari situ dia bisa tahu kapan jangka umur seseorang, apa yang akan terjadi di tempat dia singgahi keesokan harinya, kejadian apa saja yang akan menimpa orang lain, dan apa yang orang lain lakukan di belakang dia. Dia bisa tahu apa saja, bahkan kepribadian orang pun bisa dia rumuskan secara detail lewat penglihatannya.

Hanya saja yang jadi masalah, dia nggak bisa kendaliin siapa-siapa saja yang bisa dia lihat masa depannya. Kita nggak bisa dengan santainya meminta ramalan dari dia, atau juga meminta dia jangan melihat kehidupan kita misalnya. Dia sendiri mengaku udah cukup menderita dan tidak mau mempunyai bakat seperti itu. Maksudku, adakah di sini orang yang cukup tega mengatakan pada orang terdekatmu kalau dia akan mati besok? Atau mengatakan secara tegas pada orang lain tentang aibnya secara terang-terangan tanpa menyakiti perasaan orang itu? Dia udah banyak mengalami banyak gesekan dari keluarganya sendiri hanya gara-gara ini. Dan pada akhirnya, wajar kalau dia tidak mau mengatakan pada siapapun tentang penglihatannya. SIAPAPUN, bahkan pada sahabatnya sendiri (baca: gw). Padahal menurut gw, dia punya bakat seperti itu pasti ada maksud dan tujuannya, bukan? Seperti contohnya agar mempersiapkan hati si calon penerima musibah agar dia tidak terlalu sakit hati ketika musibah itu terjadi, atau merubah kehidupan orang lain menjadi lebih baik.

Kayak gw baru-baru ini. Gw rasa semua orang yang mengikuti blog ini udah tahu kalau gw lagi sangat cinta mati pada seseorang. Dan dalam prosesnya, gw tahu kalau orang itu tidak punya perasaan yang sama dengan gw, makanya dari dulu gw emang sudah sangat berniat untuk melepaskannya. Tapi, gara-gara temanku ini. Hanya karena dialah, gw masih keukeuh mengejar cowok yang gw sukai. Temanku bilang, cowok itu juga punya perasaan sama denganku. Ya jelas perasaan gw mendadak di atas awan, dan gw meremehkan semua cewek-cewek yang juga menyukai cowok yang sama. Intinya, gw malah membuat tindakan-tindakan yang memalukan lantaran keyakinan gw yang epik itu. Sudah tentu pada akhirnya cowok itu menjauhi gw (huwaaaaaaaa!!!!! *nangis*).

Akibat terlalu banyak tanda kalau cowok itu tidak menyukai gw, malam kemarin gw memojokkan temanku untuk mengatakan kebenaran. Gw samar-samar tahu kalau temanku ini memberikan harapan yang kosong buat gw. Dan gw paksa dia untuk mengatakan penglihatan dia tentangku dan cowok itu. YAK AMPUN ASTAGANAGADRAGON! SUSAAAAAAH BANGET BUJUK DIA untuk bilang isi penglihatan dia. Ada kali 2 jam maksa dia untuk ngomong. Dan berkali-kali juga dia bilang, ”Aku takut buat kamu sedih, nez. Aku cuma mau kamu bahagia.” Akhirnya gw bilang ke dia, kalau kepalsuan lah yang membuat gw sedih. Gw paling benci kebohongan yang dibuat-buat hanya karena takut melukai gw. Itu bukan cinta namanya, itu namanya penyiksaan. Beuh, gw pake cerita tentang kepompong segala yang harus ngerasa sakit yang membuat kupu-kupu jadi cantik. Ah macam-macam deh teknik bujukan gw. Dari bujukan anak kecil, orang sok bijak, atau bujukan setan sekalipun wakakakaka. SEMUA!!!!

Akhirnya, dia bilang juga...kalau apa yang gw rasakan selama ini benar....cowok itu memang tidak punya perasaan yang sama denganku.

Tuh kan’ gampang ngomongnya.

Gitu aja kok susah?

Gw tuh sebenarnya udah tahu, tapi karena dorongan diayangpunyainderakeenam, gw benar-benar yakin kalau cowok itu suka ama gw. Dan ternyata, itu pun bohong. Gila gak tuh? Kalau gw dalam keadaan normal, gw beneran marah semarah-marahnya. Apa perlu gw bilang alasannya? Kalian pun pasti mengerti kan’ perasaan gw kayak gimana? Tapi untungnya, gw dari jauh-jauh hari sudah membuat masa-masa berkabung akan kepatahan hatiku *halah*, jadinya gw ngga terlalu kaget dengar fakta itu.

Cuman akibatnya, ada masalah pelik yang semakin membuat gw penasaran. Kemarin gw tanya dia, apakah dia sering melihat penglihatan tentang gw? Dan jawaban dia adalah, dia kelaparan setengah mati karena belum makan malam. Cih, dia menghindari topik pembicaraan. Berarti, dia emang sering dapat penglihatan tentang gw. Pantesan dia suka bengong sendiri pas lagi ngobrol ama gw.

GYAAAAAAAA.......!!!!!!!!

Kira-kira butuh berapa lama tuh bujuk dia untuk ngomong soal itu? Paksa dia ngomong soal perasaan gebetan gw aja ampe 2 jam. Mungkin memaksa dia ngomong masa depan gw butuh berminggu-minggu kayaknya hahahaha.

Ah, auklah. Apapun yang terjadi di masa depanku, aku yakin itu yang terbaik dari Tuhan untukku.

Amin.

Jumat, 25 September 2009

Lebih Baik Sebut Aku Pembohong

Yep, seperti yang kalian lihat di judul, gw lebih suka dibilang pembohong daripada cerita aneh yang nanti gw ceritain dibilang kenyataan. Tanya kenapa? Coz’ it’s too weird and frightening that I have such a thing in my life.

Untuk yang sering ngelihat gw mondar-mandir di yahoo messenger beberapa hari yang lalu, mungkin pernah ngelihat status gw yang bertuliskan, ‘Ternyata, ‘dia’ yang bermuka jelek-bla-bla-bla (lupa) terus-terusan berdiri di pinggir tembok’. Gw sih maunya nulis status itu senormal mungkin dan ngga dicurigain orang, tapi ada juga yang pinter dan penasaran tentang status gw.

“Nes, ‘dia’ yang lo maksud itu siapa?”

Gw jawab, “Ga tauk tuh’ gak kenal. Rese banget!”

“Emangnya ‘dia’ itu siapa?”

Nyah, dia ngarti aja. “Entahlah, ‘hantu’ mungkin….” http://www.emocutez.com

Begitu jawab gw.


Kalo melihat beberapa postingan blog di bawah, kalian pasti ngerti gw itu lagi ngalamin depresi berat sampe makan pun susah, tidur pun apalagi. Suatu ketika di malam hari, gw ngerasa ada seseorang di belakang gw, bahkan gw bisa ngelihat pantulan bayangannya di layar laptop. Tapi berhubung gw lagi stres berat, yang katanya suka punya imajinasi yang aneh-aneh, so gw bersama akal sehat gw sepakat kalo itu hanya perasaan gw aja. Dan saat gw tidur, gw mimpi supeeeeer W-E-I-R-D.

Di dalam mimpi, ada seorang cewek berambut amat berantakan dengan muka jelek, penuh totol-totolan gak jelas, memakai baju abu-abu kusam. Penampilannya kayak gembel dan menyeramkan. Cewek itu ngulurin tangan ke gw mo ngasih sesuatu entah apa (gw lupa. Keknya seh kain motif-motif gituh). Gw baru aja mo ambil barang itu, tapi ada seseorang berdiri di belakang gw, melotot penuh kemarahan sama cewek tadi. Orang di belakang gw itu adalah seorang pria yang….cakep (ehem!)—anehnya, gw ngerasa familiar, but still I don’t have a clue. Pria itu pun kemudian nunjuk ke arah lain, yang tak lain adalah Pak Jo (nyahahahaha!). Haish, jangan tanyakan dah siapa Pak Jo. Bilang aja dia salah satu orang yang ‘mengerikan’, tapi orangnya luar biasa baik, sabar, a good father, a good leader, and a wonderful man.

Trus, kenapa gw bilang beliau ‘seram’? Setahu gw beliau itu orangnya ga pernah marah, walau banyak masalah bejibun dan gw pernah dengar salah satu teman dekatnya malah—err…..dan dia juga punya karunia yang bisa—kinda ‘read people’s mind and heart’, tapi jelas berbeda dengan orang-orang yang sejenis. Yang pernah gw temuin di orang macam karunia beginian, they sometimes full of ‘rage’ when they feel something’s (totally) not right dan omongan mereka bisa sepedas sekarung tobacco, plus semua aib si orang yang kebaca pikirannya tersebut dibeberkan di depan umum.

Bayangin aja. Masa’ seorang cewek langsung ditegur sebagai ‘wanita nakal’, ataupun ‘pelaku aborsi’ di depan umum? Pernah juga abang gw kena. Dia disebut ‘penzinah’. Waktu itu gw anggap abang gw cowok baik nan teladan, walau gw tahu banyak cewek nggak tahu malu ‘throw theirself on him’—but then, turned out that my assumption based on fairy tales. In fact, there’s no cat in the world who would refuse such a delicious salmon.

Back to topic. Di mimpi, Pak Jo yang nggak pernah marah malah marah-marah sama gw di mimpi. Habis itu gw bangun dan gw ngelihat bayangan cewek ‘hantu’ tadi berdiri di pojok kamar. Gw langsung ngabur ke pojok berlawanan dan beberapa saat bengong, mikirin ‘kok bisa-bisanya ada hantu berani dekat gw?!’. Di kasus sebelumnya, ngga pernah ada yang berani dekat-dekat ama gw. Satu, menurut temen gw (yang juga temannya para penghuni dunia hantu), dia bilang ada roh leluhur yang jadi pengawal gw sejak dulu. Dua (yang ini kata gw seh), setelah gw aktif secara ‘spiritual religious—kinda thing’, ada dua bodyguard with two shining white robes yang lebih tangguh, lebih cakep, lebih tinggi perkasa sampe bodyguard sebelumnya tunggang langgang ketakutan. Then, it becomes clear.

I try to feel my two magnificent bodyguard.


And, I just realize that I can’t feel them no more.


I ask God, “Why?” Seolah pikiran merunut kejadian demi kejadian pada beberapa bulan terakhir, di mana gw ngeluh sama God, I blame Him for what He did to me, coz’ He’s been not fair to me. Anyone else can have an easy, cozy Life, and I have to crawl to step forward so I can live. I have thousand words to describe how it feels in my body, I have thousand trillion tears when I’m living in my own family and when I’m facing every rejection from people. That’s how I told God in the last few months, then I was completely stop talking with Him. Saat itu, di pojok kamar kos gw, my mind repeat the words I’ve read before, ‘like a potter making a vessel from clay, he can make anything into whatever he please for, and that is God with your life’ (Jer 18:4-6)

I could feel God’s words was coming to my head, seakan-akan Dia bilang, semua yang gw punya, di mana gw lahir, keluarga gw yang orang batak, jenis rambut gw, penyakit gw, apapun itu udah Dia rencanakan matang-matang karena itulah yang terbaik buat gw. Dan kata yang paling telak adalah ketika Dia katakan, “How dare you filthy human critic My works! Siapakah engkau manusia yang berani menghina pekerjaanKu?!” Oh—well, gw akhirnya berdoa dan merenung lama, lama….lalu, nangis lama…dari pagi sampai malam. Seharian di depan laptop membaca renungan di semua website.

Beberapa hari lewat, err…hampir seminggu mungkin, sampai datangnya hari ini. Tadi malam, eh bukan…gw tidur jam 3.30 pagi, brarti tadi subuh atau tadi pagi gw mimpi. Di sana gw lihat ada pria yang gak bisa gw ingat penampilannya, tapi di depan pria itu ada anak kecil bersayap melayang-layang penuh gembira di atas udara. Dan jangan samain kek gambaran umum cupid Photobucket Karena ini beneran kelihatan seperti anak kecil sungguhan yang sekitar 7-8 tahun, soalnya rada besar badannya. Anak itu pun dengan senangnya terbang bolak-balik di depan pria itu sambil bernyanyi, “Yesus akan datang…Yesus akan datang…persiapkan dirimu…..nantikanlah kedatangan Yesus….”

*beneran deh aye nangis nulisnya* http://www.emocutez.com


Sungguhan, gw lebih suka dibilang pembohong soal di atas. Dan tolong bilang itu sama gw sekarang….

Coz’ I do need that more than you think....


Sabtu, 05 September 2009

Psychic

Belakangan di rumah, gw selalu nonton acara-acara Psychic atau paranormal kayak “America’s Psychic Challenge” atau “Psychic kids”. Buat yang nggak pernah nonton acara ini, gw jelasin dikit deh.

Acara “America’s Psychic Challenge” itu berisi tentang tantangan-tantangan untuk semua paranormal professional. Beberapa pesertanya ada yang merupakan paranormal yang dipakai FBI loh. Ada juga yang jadi private investigator, buka praktek pribadi, dll. Dalam acaranya sendiri ada 3 tantangan yang harus dilewati peserta untuk mendapatkan $100.000 US dollar. Tantangan pertama biasanya tentang hal yang sepele dan nggak penting, tapi susah. Bayangin aja, tesnya disuruh menebak satu nomor pintu di antara ratusan pintu yang dihuni salah satu kru di dalam rumah sakit kosong. FYI, rumah sakit tersebut juga berhantu. Walau semua peserta ngga ada yang benar, tapi rata-rata cuma beda satu-dua pintu doang. Ajegile, orang normal mah pasti nebaknya ngaco wakakaka. Di episode yang lain, tantangannya berbeda. Peserta disuruh menebak satu di antara 4 orang yang memiliki catatan kriminal. Tahap ini nilai bulatnya 35 poin.

Di tantangan kedua, biasanya tantangannya bersifat cocok-mencocokkan alias miss and match. Misalnya, mencocokkan 4 suami-istri, atau 4 anjing dengan pemilik. Kebanyakan peserta mengeluh karena hal miss and match seperti ini bukan bidang mereka. Poin yang didapat mereka biasanya sedikit banget, antara 5-15 poin dari 25 poin.

Nah, tantangan ketiga inilah yang paling susah. Tapi bagi para psychic, agak gampang-gampang susah. Di tahap ini, para peserta dibawa ke TKP alias Crime Scene tanpa keterangan apapun mengenai peristiwa apa yang telah terjadi di sana. Mereka sendiri yang harus menjelaskannya. Dimulai dari jenis kelamin korban yang tewas, posisi korban sewaktu ditemukan, penyebab kematian, kehidupan korban, dll. Nilai bulat tahap ini 45 poin yang dinilai oleh keluarga korban atau CSI -- tim investigasi kasus kriminal.Yang buat gw merinding, semua peserta rata-rata benar. Tapi ada juga 1-2 orang yang 100% miss. Beuh, paranormal bohongan kali ya? Jijaynya, ada yang ngaku buka praktek selama 14 tahun, tapi nggak bisa tahu si korban matinya kenapa.

Dan ada juga yang bercerita sampai ke detil-detilnya kayak masa kecil si korban, bagaimana perasaan si korban sebelum meninggal, rahasia-rahasia si korban, dll. Kalau udah kayak gini, biasanya semua keluarga korban yang jadi juri pada nangis semua. Gw juga sampe ikutan nangis. Sedih-sedih sih.

Yang kedua adalah acara film dokumenter yang paling gw suka, yaitu “Psychic Kids”. Seperti judulnya, anak-anaklah yang menjadi paranormalnya. Film pendek ini mengisahkan kehidupan anak-anak spesial yang tentunya berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Salah satu anak bernama Faith, mengaku mulai melihat sesosok anak kecil yang tidak bisa dilihat orang lain sejak dia berumur 5 tahun. Faith bahkan berteman dengan anak kecil itu (namanya Freddie) selama 5 tahun lebih tanpa ngomong-ngomong sama ibunya.

Sampai suatu ketika, Faith bertemu dengan ibu Freddie yang jahat, bernama Elizabeth. Faith bercerita kalau Freddie dibunuh ibunya sendiri di tahun 1886. Mungkin karena sifat Elizabeth itu tukang nyiksa, hantu betina ini juga suka gangguin Faith malam-malam. Faith dipukul, dijambak, dicakar sampai anak malang itu trauma tidur sendirian. Karena nggak tahan, Faith akhirnya ngaku sama ibunya. Reaksi ibunya malah sedih banget. Beliau bercerita keadaan anaknya sambil nangis-nangis. Dia takut kalau Faith mengalami sakit mental karena menurut dia Freddie itu nggak nyata. Tauknya, Freddie dan Elizabeth Stuart itu benar-benar ada. Nama mereka berdua tercatat di catatan penduduk kantor negara bagian tahun 1880-an.

Anak yang lain bernama Ahli (ini nama orang loh). Menurut gw, dia yang paling keren. Dia bisa mengukur usia orang-orang yang dilihatnya. Katanya dulu dia suka sembarangan bilang ke beberapa orang tertentu kalo umur mereka dalam hitungan hari dan kemudian mereka benar-benar meninggal. Kontan, semua orang yang tinggal di lingkungan yang sama, benci dia dan menyebut Ahli ‘pembawa sial’. Dia juga bisa melihat aura orang lain yang menandakan kesehatan, sifat dan mood. Ahli bisa langsung mengalami migren parah ketika ia melihat orang yang memiliki aura negatif.

Masih ada satu anak lain, tapi gw lupa namanya. Jenis kekuatannya hampir sama kayak Faith, tapi tidak sekuat Faith dan dia juga bisa sedikit meramal.

Kesan gw setelah melihat semua acara ini, gw sangat kaget buangeeet. Contohnya seperti paranormal di America’s Psychic Challenge ketika berusaha mengetahui kasus kriminal di TKP. They don’t actually see ghost, but they feel something’s going on in that place. Dan proses itu sama persis seperti yang gw alami. Faith juga begitu, walau dia emang bisa melihat hantu, tapi cara dia mengetahui nama-nama hantu lain di rumah berhantu bukan karena hantu itu sendiri yang bilang. Kalau gw gambarin dengan yang gw alami, well… ada semacam gambaran atau kadang emang sesuatu yang bukan berasal dari diri gw whispering something into my head. Tapi buat gw, hal-hal kek gini jarang banget kejadian, kecuali kalau….

Pertama, gw dasarnya orang yang ga pedulian ama lingkungan. Tentu aja gw juga ga peduli ada hantu apa kaga di tempat gw. Sebodo amat! Toh mereka juga takut ama gw. Tapi, kalau ‘keberadaan’ mereka itu mengganggu, dalam artian suka ‘menunjukkan’ kehadirannya kayak jalan pletak-pletok di koridor yang ga ada orang, menimbulkan suara nangis-nangis, dan lainnya, baru deh sinyal hantu gw keluar. Ya gimana kagak? Denger begituan jam 2 malam kan serem banget, dan gw pernah ngalamin gituan. Nah, gw biasanya langsung bisa rasain ‘roh gentayangan’ yang kek gini, walaupun gw baru menjejakkan kaki gw untuk pertama kalinya di suatu tempat.

Ngga usah ngomong kalo tempat itu angker atau gimana, gw tau kok. Ciri fisik hantunya juga biasanya langsung kekirim ke otak gw. Lucunya, gw ngga ngerasa ngeri sama roh-roh pengganggu itu pas gw ‘ngerasain’ kehadiran mereka di siang bolong. Mau mereka sebesar buldozer kek, setinggi pohon kelapa kek, atau suka celakain orang sampe mati kek, gw nggak takut. Tapi kalau udah malam, gw bisa sampe kencing di celana. Wakakakaka. Soalnya ada temen gw yang ‘sense’-nya lebih tajam dari gw, bahkan bisa ngomong juga sama makhluk begituan. Temenku itu akan ketakutan setengah mati kalau ngerasain ‘roh’ yang menyeramkan (tidak seperti aye, dia tidak mengenal siang ataupun malam). Dijamin, dia akan catat tempat angker itu di dalam otak dan ngga bakal datang lagi ke sana. Dibayar mahal pun dia tetep ngga mau. Tapi, bener deh. Ga tau ya kenapa. Menurut gw, ‘kehadiran’ mereka yang awalnya tidak seram (buat gw), jadi seraaaaam super MAX setelah jam 1 malam sampe jam 3. Kesimpulan gw seh, kekuatan mereka bertambah kuat di jam segitu (ini menurut gw loh ya. Ga tau bener atau salah).

Tapi seringnya, kalau kehidupan ‘iman’ gw lagi bagus (rajin saat teduh, berdoa, and pelayanan), gw 100% nggak akan takut ke tempat yang angker (tempat yang hantunya serem-serem banget). Malah yang gw rasain, mereka ngga berani deket-deket gw. Tapi kalau kehidupan iman gw kering kerontang, gw langsung ketakutan dan menjerit-jerit ngga karuan pas sinyal gw ngerasain ‘mereka’, meskipun mereka Cuma nongkrong doang dan ngga ada niat gangguin gw.

Yea, makanya itu, teman-teman. Rajin-rajinlah berdoa biar semua setan takut sama kita. Hehehehe.

Senin, 10 Agustus 2009

Masa Kecil


Akhir-akhir ini ketika gw mengingat masa kecil, gw ngerasa ada yang janggal. Kok rasa-rasanya ada yang aneh sama perkembangan otak gw yak? Dan tolong bagi yang punya keahlian di bidang otak-otakan, dimohon menjelaskan keanehan-keanehan yang akan gw ceritakan setelah ini.

Jadi, begini ceritanya. Gw kayaknya bisa mengingat masa-masa sebelum adek gw yang bontot lahir. Sebagai informasi, waktu adek gw lahir, gw berumur 4 tahun. Berarti, gw bisa mengingat masa-masa sebelum gw berumur 4 tahun dong? Yang paling gw ingat adalah proses di mana gw menganggap orangtua berserta semua isi rumah adalah sebagai orang-orang asing yang ‘kebetulan’ tinggal bersama-sama ama gw. Jauh sebelum adek bontot gw lahir (masa ini gw jadiin patokan, karena gw ga ingat berapa usia gw saat itu), kedua orangtua gw ga pernah ada di rumah dari pagi sampai sore. Kami pun cuma bisa bertemu di waktu malam yang tidak berarti apa-apa. Papa atau mami gw ga pernah yang namanya mengajak ngobrol anak-anaknya. Well, setidaknya gw ga pernah ingat mereka bertanya pertanyaan-pertanyaan kek gini, “Hari ini ngelakuin apa aja?” “Bagaimana teman-temanmu?” “Hari ini nakal ngga?”

Intinya, kami bisa dibilang hampir tidak ada kontak emosi sama sekali. Itu yang gw ingat. Belum lagi para pengasuh gw dan adek di bawah gw yang bisa dibilang kasar sama kami berdua (ini masa sebelum adek gw yg bontot lahir. FYI, gw ini 3 saudaraan). Beberapa pembantu ada yang suka memukul kami, memaksa kami melakukan pekerjaan berat dan tak lupa, mereka juga mengatakan pada kami seolah-olah orangtua kamilah yang menyuruh mereka berbuat seperti itu pada kami.

Setiap gw teriak sama para pembantu tidak bermoral itu begini,….
Gw: “Mbak kalo mukulin aku lagi, nanti aku bilangin mami loh!”

Dia pasti akan balas seperti ini…
Dia: “Bilangin sono. Nanti aku juga bilangin kamu tuh nakal banget. Pasti kamu bakal dimarahin lebih parah lagi sama mami kamu. KAMU MAU DIPUKUL MAMI KAMU?”


Mau seserem-seremnya pembantu gw, lebih SERAM mami gw. Makanya, gw ngga berani ngelawan. Tapi yang lebih heran, waktu itu gw yakin banget badan gw banyak banget lebam-lebam biru. Lebih banyak di tangan dan kaki. Tapi kok kedua ortu gw ga nyadar ya? Puncaknya, pas gw kesiram air panas. Ajegile, anak umur 4-5 tahunan disuruh bawa seember besar air panas mendidih ke kamar mandi? Ya iyelah, ga bakalan kuat. Alhasil, gw bawa luka bakar itu sampai sekarang di tubuh gw. Bekasnya ngga bisa ilang dan besar pula. Gw ga begitu tau cerita lengkapnya, tapi begitu gw pulang ke rumah, pembantu itu udah ngga ada lagi setelah peristiwa naas itu.

Kondisi yang seperti itu buat gw yang masih kecil mulai berpikir. ‘Kalau begitu apa artinya orangtua? Pas gw butuh mereka, mereka ngga pernah ada. Apa gunanya Papa dan Mami? Cuma ngasih duit jajan doang?’ Dari semua itu, gw tarik kesimpulan: Semua orang di dekat gw adalah orang asing, kecuali teman-teman gw. Gw otomatis menganggap posisi teman lebih penting dari keluarga, karena gw seringnya berkomunikasi sama mereka sih ketimbang ma keluarga sendiri. Satu hal yang buat gw sendiri merasa terheran-heran….karena…walau gw masih kecil….gw sudah mampu berpikir….

Apa tujuan gw hidup di dunia ini?

Untuk apa gw hidup?



Kira-kira wajar ngga sih anak kecil udah bisa mikir tentang begituan? Bagaimana, para psikolog? Ada opini? Itu sebelum adek gw bontot lahir loh. Barusan gw baru baca buku, dan di sana tertulis. “Tragedi terbesar bukanlah kematian, melainkan kehidupan tanpa tujuan.”

Itu benar banger. Karena semenjak gw mulai bertanya-tanya soal tujuan hidup, gw merasa kosong dan hampa melakukan apapun. Ortu gw selalu nyuruh untuk belajar biar mendapatkan ranking. Well, gw emang bisa banget. Gw sendiri tahu gw emang pintar. Gw udah bisa membaca jauh sebelum adek gw yang bontot lahir (mungkin ketika gw masih duduk di TK nol kecil, dan usia gw saat itu 3 tahun). Itupun gw cuma diajarin sekali untuk baca huruf-huruf, dan setelah itu gw udah langsung bisa baca. Gw juga udah bisa berhitung dan perkalian di umur segitu (mungkin kalo dulu ada sistem loncat kelas, gw harusnya langsung loncat kelas tuh). Tapi waktu itu gw pikir, untuk apa gw belajar? Untuk apa gw melakukan hal-hal yang gw benci kek belajar untuk orang asing seperti ortu gw? Jadi, dari kecil gw udah terbiasa malas-malasan yang akhirnya kebawa sampe sekarang. Otak pun jadi semakin dudul deh hehehe.

Dulu waktu TK nol kecil, gw dibawa manggung nari di stadiun Jakarta Selatan bareng rombongan sekolah. Setelah acara selesai, gw panik disko. Pasalnya, secara tiba-tiba gw malah jadi anak hilang. Rombongan gw pergi entah ke mana. Asal tahu saja, jarak stadiun sama rumah gw jauh bangeeeeeet. Rumah gw di Ciputat letaknya lebih jauh dari Pamulang. Sedangkan stadiunnya kalo ga salah dekat pasar Ciputat deh (yang jadi ratunya tukang macet itu loh). Akhirnya, gw memutuskan untuk pulang sendiri dengan jalan kaki, berhubung gw sangat ingat jalan pulang walau teramat jauh. Pas kecapean jalan, gw nangis sepanjang jalan sampai jadi pusat perhatian orang-orang. Salah satu orang pemuda penasaran dan tanya ma gw, “Kenapa nangis, dek? Ada yang sakit?” Beuh, langsung dah gw cerita kalo gw ditinggal rombongan dan memberitahu dia status resmi gw yang menjadi anak-ilang-modal-nekad, disingkat akil mokad bwakakakaka. Pemuda itu baek banget. Dia langsung pinjem motor temennya dan gw dianter sampe gerbang komplek rumah.

Kenapa ga sampe rumah sekalian? Well, gw ga enak sama orang itu, makanya gw minta diturunin di situ aja. Orang itu juga bersikeras gw naek becak gituh ke rumah. Begitu sampai di rumah, gw langsung ngabur ke kamar dan nangis sekencang-kencangnya. Buat gw, itu pengalaman yang mengerikan. Jalan kaki sampe kecapean. Itu hal besar untuk anak kecil umur 3 tahun. Tante gw yang saat itu lagi di rumah, penasaran kenapa gw nangis begitu pulang dari manggung. Dia juga bingung kenapa gw pulang naek becak, bukannya sama mobil jemputan sekolah. Tapi, gw ga mau ngomong apa-apa, dan eng-ing-eng. Beberapa saat kemudian, ada tamu di luar rumah. Guru TK gw dengan mata berair dan wajah penuh kepanikan, minta maaf ke tante gw karena anak keren yang bernama Ines menghilang di bawah pengawasan dia. Tante gw dengan cool-nya menjawab tangisan si Guru malang itu.

Tante : “Ines udah ada di dalam rumah kok. Tuh lagi mewek di kamarnya.”

Sang Guru pun pulang dengan tenangnya dan tante gw secara beruntun terus-menerus bertanya ma gw.

Tante : “Kamu pulang ke rumah gimana caranya? Kenapa kamu bisa ngilang dari rombongan sekolah? Kok kamu bisa nyampe di rumah pake becak?”

Tapi, gw diam aja karena nanti pasti dikomentarin macem-macem. Sampe sekarang pun tante gw masih ga tahu bagaimana caranya anak manis seperti gw bisa nyampe di rumah dengan selamat. Untung aja waktu gw berstatus menjadi anak ilang, dunia belum ternodai dengan kasus penculikan anak, penjualan organ manusia, tracking dan hal-hal lainnya. Beuh, bakalan jadi apa dunia kalau tidak ada orang sekeren Ines di dalamnya? Bener ngga?

PS: waktu kecil, gw ngga ingat berapa tepatnya umur gw waktu mengalami hal-hal di atas. Tapi yang selalu menjadi patokan adalah saat di mana adikku yang ke-3 dilahirkan ke dunia. Gw sama adek bontot beda 4 tahun, dan dari situ gw sendiri juga heran sama isi kepala otak gw yang sudah berkembang sedemikian jauhnya di umur segitu.

Senin, 06 Juli 2009

Keanehan Gw (2)

Setelah Uda gw dimakamkan, semua keluarga besar berkumpul di rumah Ompung. Sambil berlinangan air mata, masing-masing pada bilang kalau tidak ada satu pun dari mereka yang merasakan ‘firasat’ soal Uda. Dengan bangganya, gw langsung timpal pembicaraan mereka.

“Eh, sebelum kecelakaan, aku udah mimpi duluan loh.”

Gw ceritain dah semua isi mimpi gw waktu itu. Dan, hasilnya?

Gw diteriakin…eh—dibentak gitu deh sama kakaknya papa (gw panggil dia namboru) dengan tetes air mata yang jatuh tanpa henti di pipinya.

“MAKANYA. KAMU ITU KALAU MIMPI BURUK LANGSUNG BANGUN AJA. ”

Gw kaget.

Dalam hati gw mikir, emangnya mimpi bisa diberhentiin ya? Dan, kalau bisa diberhentiin, emangnya bisa ngubah takdir orang ya? Sedikitnya, gw merasa trauma, terutama bersalah—merasa kalau kematian Uda itu gara-gara gw. Sejak saat itu, gw memutuskan tidak akan mau lagi menceritakan isi mimpi gw sama siapa-siapa. Biarkan hanya Tuhan dan gw yang tahu.

Satu, dua tahun berlalu, gw merasa atau setidaknya memaksakan diri untuk berpikir normal seperti orang pada umumnya dengan tidak berpikir macam-macam. Kalau sedang mimpi yang aneh-aneh, gw meyakinkan diri kalau itu semua hanyalah bunga tidur. Beberapa kali pernah kaget juga karena ada hal-hal yang terjadi persis seperti mimpi gw, tapi gw ga taruh itu dalam hati, dan merasa itu semua hanya kebetulan belaka. Pernah juga waktu gw masih SMP, gw suka dengar suara-suara aneh. Contohnya, ada yang bilang ‘HALO!’ dengan volume besar di kamar nyokap gw (sampai sekarang gw masih ga yakin itu suara apaan), lalu menjelang pagi a.k.a subuh-subuh, ada suara tangisan cewek (hal ini sudah diratifikasi sama pembantu dan tanteku yang lagi nyuci,dan kita sepakat itu suara ‘penunggu’ rumah kita), terus ada juga suara kotek-kotek anak ayam (kata orang sih itu tanda suara kuntilanak).


Tapi, gw tetap keras kepala. Gw bilang sama diri gw sendiri kalau itu semua biasa-biasa saja, dan gw sama normalnya dengan semua orang.

Sampai akhirnya, gw duduk di bangku SMA. Batin gw udah ngga kuat lagi nahan semuanya. Gw mimpi dua ompung gw meninggal. Yang satu ompung kandung, dia ibunya nyokap gw. Kalau yang ini, gw merasa biasa aja pas dengar beliau meninggal, karena beliau sudah tua dan sudah lumayan lama sakit-sakitan. Sedangkan yang satu lagi, ompung yang paling gw sayangin. Gw panggil dia Ompung Lagura. Wanita berusia 50an yang baik hati ini adalah adik tiri ibunya nyokap gw. Dia bisa dibilang lebih perhatian dibanding siapapun yang ada di keluarga gw. Walau gw jarang ketemu ma Ompung Lagura, tapi beliau ga pernah menghakimi gw seperti yang dilakukan orangtua gw.

FYI, gw punya banyak masalah di rumah sejak gw kecil. Kedua orangtua gw selalu memikirkan diri mereka sendiri dari gw kecil. Mereka ngga pernah ada di rumah dan selalu bertengkar satu sama lain (walau berusaha ga diperlihatkan, tapi masih kelihatan jelas di mata gw). Dan mungkin, karena gw tidak menjadi seperti yang mereka inginkan, gw selalu dihakimi oleh kedua orangtua gw. Mereka memperkatakan hal-hal yang tidak semestinya dan seberapa besar pun gw berusaha, gw ngga pernah dihargai. Mereka selalu mencari celah untuk menghina gw. Bodohnya, gw bahkan ngga bisa menyuarakan protes gw. Gw cuma diam dan diam. Menyalahkan diri dan terpuruk. Sampai-sampai gw merasa kalau gw ini ngga punya orangtua. Gw ngga punya keluarga, dan orang-orang yang ada di rumah hanyalah orang asing yang secara ‘kebetulan’ tinggal bareng sama gw.

Tapi, ompung Lagura beda. Setiap nyokap gw menghina gw, dia selalu lihat mataku dalam-dalam. Lama sekali, lalu dia bilang, “Gak kok. Ines bukan seperti itu orangnya. Dia punya potensi besar di masa depannya.”

Cuma dia yang mengerti walau gw ngga pernah menggerakkan mulut gw di depan dia.

Cuma dia yang tahu gw yang sebenarnya. Bahkan, orangtua gw sendiri ga sudi untuk mencoba mencari tahu kehidupan gw.

Dan dia…. Ompung Lagura meninggal begitu aja tanpa peringatan apa-apa, kecuali sebuah mimpi samar-samar yang gw sangkal beratus kali. Dia pergi begitu saja tanpa keluhan sakit apapun. Sekarang pun gw ga begitu jelas tahu penyebab kematiannya. Ada yang bilang, beliau meninggal sehabis makan-makanan berlemak tinggi.

Gw sedih banget, ga bakal dengar suara tawa renyahnya lagi.

Nasihat bijaksana dan kata-kata penuh inspirasi yang menggerakkan jiwa gw dan orang-orang lain yang terpengaruh olehnya.

Gw sedih ga akan pernah lagi melihat senyum misteriusnya yang selalu menyihir orang-orang di sekitarnya untuk ikut tersenyum bersama-sama dengan dia.

Gw sedih ga bisa dengar suara merdunya ketika bernyanyi dan gerakan kakunya ketika menari tarian tor-tor.

Karena perasaan inilah, gw beranikan diri curhat pada teman. Begonya, gw ga tau mau memulai cerita ini dari mana. Cerita gw berawal dan berakhir dari kata-kata yang ngga penting dan bermakna. Wajar kalau teman-temanku jadi anggap gw pembohong. Gw juga tertipu soal ini. Masalahnya, sewaktu gw cerita pada mereka soal keanehan gw, gw kira mereka percaya dan menerima semua cerita gw dengan baik. Tapi, ternyata di belakang mereka….Ampun deh ga nyangka banget kalau mereka sampai segitunya. Di sini, gw putuskan lagi kalau gw ngga akan pernah bilang apa-apa lagi sama orang lain. Biarkan hanya Tuhan dan gw yang tahu. Titik.

Bertahun-tahun gw melupakan insting ‘aneh’ gw. Kalau misalkan di suatu ruangan, gw merasa ada yang ngga beres, gw yakinkan diri kalau itu cuma perasaan gw aja. Tapi, lagi-lagi gw menjadi goyah. Lebih tepatnya ini terjadi waktu gw mulai ngekos di kota pelajar. Ajegile, kos gw antik banget sampe gw ngga bisa lagi menyangkal keberadaan makhluk halus di dalamnya. Temen sebelah kamar gw akhirnya tanya sama salah satu kerabatnya yang punya sixth sense. Dia bilang makhluk halusnya itu ada di kamar gw. ANJROT! Berarti feeling gw bener selama ini. Langsung dah gw paparin dalam sekian detik soal sosok yang mengganggu pikiran gw semenjak gw menempati kamar itu. Gw kasih tunjuk tempat di mana si makhluk halus itu biasanya nongkrong di kamar gw dan juga sosok fisik si ‘penghuni gelap’ itu.

Rambut panjang sepinggang, berpakaian gaun hitam panjang sampai mata kaki.

Teman gw kaget. Dia kira gw bisa ngeliat. Tapi, gw cuma ngerasain doang.

Lama-kelamaan gw jadi terbiasa merasakan hal-hal seperti itu, walau kadang gw ngerasa takut kalau misalkan sosok-sosok itu menampakkan diri seutuhnya ma gw. Harap dicatat. Gw cuma bisa menggambarkan sosok mereka di dalam otak gw dan ga bisa melihat mereka. Tapi, itu mah ngga seberapa. Yang paling mengejutkan waktu gw di gereja.

Sekali lagi gw TEGASKAN. Terserah kalian percaya atau tidak. Gw ngga punya alasan apa-apa dan ini MURNI pengalaman gw. Gw cuma SHARING, gak ada maksud lain.

Jadi, begini ceritanya. FYI, gereja gw bisa dibilang dipimpin oleh orang-orang yang luar biasa. Mereka tidak hanya melihat apa yang bisa dilihat oleh mata. Mereka bisa melihat jauh, lebih dalam. Misalnya ya, kalau melihat seseorang yang ngga pernah mereka temuin, dengan seijin Tuhan, mereka bisa tahu bagaimana orang itu telah menjalani hidupnya. Oke, gw ga bakal kupas soal ini lebih dalam lagi. Gw takut dibilang SARA or whatsoever, padahal gw murni pengen bagi pengalaman gw. Gw ingat, waktu itu lagi malam natal. Yang lagi khotbah adalah Pak pendeta SD (disamarkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan). Bapak ini udah ngga bisa lagi deh diingkari soal dedikasinya.

Dia sudah terbiasa hidup di dunia roh. Matanya bisa melihat lebih jauh dan lebih dalam dibanding mata orang normal. Kabarnya karena beliau dulu pernah meninggal dan hidup kembali, makanya beliau bisa mengalami hal-hal yang mustahil. Malam natal itu, Pak SD masuk ke dalam ruangan ibadah dimulai dengan nyanyian penyembahan dan doa. Di saat itulah, gw merasa ada kumpulan orang-orang berjalan di lorong. Mereka semua berjalan dari belakang menuju altar satu-satu. Karena gw yang duduk persis di pinggir lorong, gw pastinya yang paling ngerasa kalau ada orang yang lewat di sebelah. Apalagi kalau di udara ber-AC, kalau orang lewat tuh pasti ada hembusan angin gituh. Gw penasaran dan langsung buka mata. Gw pikir, ‘wah, pasti gereja bakal adain acara drama seru nih pake banyak orang begitu.’ Tapi, begitu gw buka mata dan lihat jalan lorong di sebelah gw. ANJROT, kosong melompong. Ga ada orang sama sekali.

Gw ngerasa biasa aja, karena gw pikir itu cuma perasaan gw doang. Tapi, entah kenapa….gw ga bisa berhenti merasakan hembusan angin—tanda kalau ada orang lewat di samping gw. Dan di otak gw tergambarkan sosok-sosok mereka yang memakai jubah putih besar yang membawa lilin-lilin. Dua-tiga kali gw buka mata dan pastiin kalau ngga ada orang yang lewat. Dan begitu nyanyian dan doa selesai, Pak SD langsung bilang…

“Ibadah ini kayaknya benar-benar ngga biasa. Padahal, ibadah yang sebelumnya tidak seperti ini. Saya kaget melihat altar dipenuhi orang-orang berjubah putih berdiri di sekitar saya, sampe-sampe saya harus turun dari altar untuk beri mereka tempat.”

WHAAAAAT……..?!!! Jadi, itu semua bukan CUMA perasaan gw toh?

Were those an angel?

Well yea, kalian jangan tanya ama gw dah, karena gw juga ngga pernah liat yang namanya malaikat. Tanya aja sama Pak SD sono untuk konfirmasi.

Herannya lagi, Pak SD juga bilang kalau sosok-sosok berjubah putih itu memegang lilin.

Kebetulan yang aneh atau gw-nya yang aneh?

Auk ah lap.

But, something deep inside of me ... was saying that those white robe people are ....

Jumat, 26 Juni 2009

Keanehan Gw (1)

Gw sendiri juga ga tau. Sejak gw kecil gw selalu merasa diri gw beda dari orang lain pada umumnya. Kalian boleh aja bilang gw bohong, gw ngga peduli dan ngga mau susah-susah ngurusin. Ini toh blog gw sendiri, gw bisa nulis suka-suka gw. Percaya tidak percaya, itu terserah kalian mau berpendapat. Gw malah suka banget kalau kalian berkomentar jujur dari sanubari anda sendiri. Soal sakit hati atau engga, itu nomer yang kesekian di kamus gw. Toh gw ngga pernah mikirin apa kata orang hehehe.

Dari gw kecil, entah umur berapa, gw selalu merasa ada sosok yang ngikutin gw. Tapi sejauh mata memandang, sosok itu ngga pernah ada. Pernah gw cerita sama nyokap, tapi beliau malah bilang, ‘Ah, cuma perasaanmu aja kali.’ Dan jadilah, gw ga pernah mikir apa-apa tentang itu dan lama-kelamaan gw jadi terbiasa. Yang lebih herannya lagi, sosok itu semakin terasa kehadirannya ketika menjelang pagi, terutama waktu gw lagi enak-enak tidur nyenyak. Satu suara muncul begitu aja out-of-nowhere, ‘Nes, ayo bangun. Bangun!’ Suara itu bener-bener muncul untuk bangunin gw! Sedari awal gw sih ngerasa ngga aneh, karena itu udah berlangsung dari gw kecil. Tapi semakin gw beranjak remaja, gw baru deh ngerasa itu a-n-e-h. Watdehel, suara dari mana tuh?

Pernah gw berpikir kalau itu emang suara dari diri gw sendiri, walau gw sendiri ga tau gimana jelasinnya. Yang bisa gw gambarin dari suara itu adalah, itu suara pria lembut, tapi nadanya ngga pernah sekalipun nuntut gw untuk melakukan apa yang dia bilang.

Ada lagi satu keanehan dari gw. Mimpi gw selalu menjadi nyata. Well, ini bukan maksudnya mimpi gw yang mau jadi astronot trus gw jadi astronot beneran loh haha. Pertama kalinya mimpi gw menjadi nyata waktu gw berumur 8 tahun. Gw INGAT BANGET bagaimana peristiwa ini terjadi. Waktu itu rencananya gw dan keluarga mau pulang kampung ke Medan naik mobil (naik pesawat masih mahal banget dulu). Lama perjalanan kira-kira sekitar 4-5 hari kalo ga salah. Supir juga udah disiapkan 2 orang, Papa dan adik kandungnya yang berganti giliran untuk membawa mobil. Yang ada di mobil ada nyokap gw, dua adek gw yang cowo dan cewe yang masih balita, namboru (tante) gw yang masih duduk di bangku SMA (dia udah kayak babysitter karena tugas dia emang jagain gw dan adek2 gw), lalu ada sepupu gw yang udah kerja dan cantik, namanya Kak Yana, Ompung (panggilan nenek), dia tantenya si papa, trus sama anak kandungnya. Pokoknya penuh banget dah tuh mobil. Barang-barang ditaro di atas mobil, ditutupin kain parasut warna biru dengan tali yang diikat kuat-kuat (tauk kan gaya orang mudik jaman dulu?).

Kita juga bahkan menginap di beberapa kota terlebih dahulu seperti Lampung, Palembang dan Jambi sebelum sampai di tujuan untuk beristirahat. Dalam perjalanan, orang-orang yang ngga kuat nahan ngantuk bisa tidur di bawah kursi penumpang yang sudah dialasi karpet dan selimut biar hangat (dan tentunya harus tahan juga kena kaki-kaki gajah yang suka lupa ada orang di bawahnya).

Gw udah sering dibawa perjalanan jauh kek gitu. Gw ga pernah lagi mabok mobil yang buat muntah-muntah gaje. Sampe akhirnya, ga tau kenapa, gw mual-mual dan badan lemas banget saking seringnya muntah. Pas malamnya gw tidur, gw mimpi seraaaam banget. Di mimpi itu, kendaraan kita dilanda badai dan gempa bumi hebat yang porak-porandain semuanya. Adik papa gw pun hilang dimakan kabut hitam. Besoknya, gw bangun masih dalam keadaan mabok berat. Gw coba lawan rasa mual dengan tidur-tiduran di bawah kursi penumpang, merelakan badan gw diinjak-injak sama yang lain. Tiba-tiba tempat tidur gw berguncang keras banget, persis kayak di mimpi gw, gempa bumi hebat. Semua orang di dalam mobil teriak-teriak dan pandangan gw mengabur.

Ketika gw buka mata, orang-orang yang ngga gw kenal narikin tubuh gw lewat jendela mobil. Gw ditanyain sana-sini, ‘ada luka ngga?’ ‘kamu ngga apa-apa?’. Gw cuma diam ngelongo, liat mobil kijang biru yang udah ngga berbentuk lagi dalam posisi terbalik di depan gw. Semua kaca pecah, moncong mobil rata, pokoknya mengenaskan banget. Keluarga gw yang terperangkap di dalam mobil bervariasi lukanya. Ada yang parah, ada yang bibirnya sampai kena beling kaca (mengerikan loh), ada yang cuma lecet di kaki. Sedangkan gw? BERSIH, tanpa luka sedikitpun. Dan rasa mual gw malah sembuh dalam sekejap.

Sakit yang membawa berkah, eh?

Gw awalnya panik, gw kira ada yang mati. Karena dari berita-berita yang gw tonton di tipi, setiap kecelakaan selalu ada kematian. Setelah gw pikir-pikir lagi, gw malah jadi tegang. Karena dari skema otak gw yang besarnya tak melebihi jengkol, gw malah berpikir kek gini.

Kecelakaan => ada stasiun tipi datang => gw diwawancarain => tapi, bingung mo ngomong kek gimana => akhirnya, jadi panik sendiri dan berpikir bisa nyombong di depan teman-teman kalo gw nongol di tipi => gw malah berakting, ikut-ikutan nangis bareng ma adek-adek gw yang kesakitan beneran => namboru gw yg ngurusin gw dan adek2 juga kebingungan karena gw ikutan nangis, padahal gw ga luka.

Photobucket


Ya, jangan salahin gw dooong. Namanya juga anak-anak hehe.


Tauk-tauk ada suara tangisan meraung-raung yang lebih mengerikan dari suara tangisan gw. Bokap gw yang nangis. Gw bengong. Itu pertama kalinya gw lihat laki-laki nangis. Dia jongkok di depan adiknya yang terbaring di atas tanah sambil ditutupi kain. Gw tanya sama namboru gw.

Gw : Bou, itu kenapa Uda (paman) tidur ditutupin kain?
Namboru: Iya, Uda meninggal.

Nyeh, gw malah merasa takjub, karena waktu itu gw pertama kalinya liat orang meninggal. Gw duduk aja, nongkrong di dekat mayat Uda gw anak manis jangan tiru saya ya. Satu per satu keluarga gw datang nyingkapin kain di atas mayat sambil berisak tangis. Gw ngeliat tuh sekilas, matanya Uda melotot dan ada darah segar di kepalanya. Gw pengen liat lebih jelas, tapi gw ditarik sama namboru gw. Dia nyuruh gw tidur di salah satu rumah penduduk dan ngga lama, gw dibangunin karena ada polisi yang mau tanya sama gw.

Pertanyaannya simpel banget kok.

Polisi: Dek, tadi siapa yang nyetir mobilnya?
Gw : Papa.

Namboru gw marah-marah ma gw, karena gw udah bolak-balik diingatin kalo polisi tanya siapa yang nyetir, bilang aja yang nyetir si Uda yang meninggal. Soalnya gw pikir ga ada salahnya gw jujur, toh ngga akan membawa akibat apa-apa.

Untungnya, perbuatan bego gw ga sampe buat bokap gw dipenjara sih.

Kita sekeluarga pun melanjutkan perjalanan ke Medan setelah itu. Bokap sewa 2 mobil sekaligus menuju kota tujuan. Satu mobil biasa dan satu mobil ambulans yang bawa Uda. Karena mobil biasa ngga bisa nampung semua sekeluarga, akhirnya 2-3 orang terpaksa ikut mobil ambulans. Kasihannya, selama perjalanan, mereka harus menahan bau dari mayat. Semua orang yang ada di ambulan nutupin muka mereka pake saputangan beberapa lapis. Gw penasaran kayak apa baunya, tapi gw ngga boleh deket-deket ambulans. Dan itu berlangsung selama dua hari loh. Ckckck.

Begitu sampai di depan rumah Ompung (orangtuanya Papa), gw liat banyaaaaak orang udah ngumpul di sana. Semua orang yang di sana langsung nangis, nyaris menjerit waktu liat Uda dikeluarin dari ambulans. Istrinya Uda beberapa kali pingsan, dan kembali teriak-teriak kesetanan begitu sadar. Itu juga pertama kalinya gw hadir di acara melayat ala orang batak. Pantesan aja sebelumnya gw ngga boleh ikutan acara melayat, ternyata kek gitu. Yang namanya anak kecil pastinya jadi ketakutan. Untung gw langsung dibawa kabur ke rumah orangtua nyokap gw. Tapi sayangnya, gw hanya sempat mandi dan tidur siang, habis itu gw dibawa lagi ke rumah orangtua Papa dan ikut acara melayat sampai selesai. Wuih, acaranya sampai 2-3 harian loh. Capek banget.

Gw jadi nyesal.

Waktu malam-malam, setelah Uda dimakamkan. Gw sama anak-anak kecil lainnya malah ketawa-ketawa, dan beberapa kakek-kakek tua yang tidak kita kenal marahin kita.

“Hush, ngga boleh ketawa!”

Tapi, kita malah ngga peduli.

Dan, setelah itu…..ada kejadian-kejadian yang…..

Photobucket


Sabtu, 04 April 2009

Tarot


Hari itu hujan dari siang sampai malam, padahal kita janjian jam 6 sore untuk ketemu di kafe favorit. Ketika hujan mulai reda, aku telpon Momon (begitu sebutanku untuknya) untuk pergi sesegera mungkin sebelum hujan kembali deras. Tapi, dia bilang untuk melihat keadaan sebentar lagi karena di tempat dia hujan masih deras. Ternyata, benar saja. Hujan malahan semakin deras sampai 2 jam ke depan dan akhirnya kami bertemu di kafe jam 8 malam.

Pas aku datang, Momon marah-marah. Soalnya aku telat setengah jam hehehe. Dia sindir aku sambil memberengut kesal. Aku tidak minta maaf dan tertawa mendengar kata sindirannya. Mataku lalu menyisir keadaan kafe di sekitar kami yang bisa dibilang sangat ramai. Padahal, seingatku, kafe itu selalu lengang jika aku datang. Aku kaget dan mengaku sedikit beruntung bisa mendapatkan tempat duduk di sana (tentu itu berkat Momon yang datang lebih cepat). Aku pun berbicara cukup lama dengan Momon dan bilang padanya ingin mencoba ramalan tarot yang ditawarkan di dalam kafe. Aku meminta pendapatnya, apakah itu pantas? Jika mengingat kami berdua adalah umat beragama yang tidak diperbolehkan melakukan hal-hal seperti itu. Aku bukannya apa-apa. Aku hanya penasaran karena tidak pernah mencoba meramal sebelumnya. Aku juga ingin ada bahan lelucon ketika nanti si peramal itu salah menjabarkan hidup dan masa depanku. Momon bilang terserah aku. Aku lalu langsung mendaftar tanpa keraguan di meja kasir dan kembali ke meja kami.

”Mbak ya yang mau diramal tarot?” Seorang bapak setengah baya mendatangi meja kami sambil membawa kain hitam dan kotak kayu. Aku menjawab pertanyaannya dengan mempersilahkannya duduk di sampingku dan menarik minuman makananku yang memenuhi meja. Bapak yang dipanggil Mas Jay ini kemudian menaruh kain hitam di atas meja dan membuka kotak kayu yang berisikan 2 gepok kartu besar dan kartu kecil.

“Kamu mau diramal apa?” Kata Mas Jay antusias sambil mengocok kartu besar yang kuminta (sebelumnya dia memintaku untuk memilih kartu kecil atau besar. Aku bilang aku mau kartu besar). Terus terang, aku bingung kalau ditanya seperti itu. Aku hanya ingin dia meramal masa depanku. Tapi, masa depan itu abstrak, bukan? Begitu banyak pertanyaan bodoh yang ingin kutanyakan, tapi di sebelahku ada Momon.

”Mas, kalau orang ngeramal ama Mas, mereka biasanya minta diramal apa?” tanyaku bodoh. Aku bisa melihat si Momon mendengus geli mendengar pertanyaanku yang membingungkan. Pastinya dia berpikir, ’mau diramal kok malah bingung?’ Ya itulah, aku. Si anak aneh hehehe.

”Biasanya orang mau diramal soal karier atau jodoh!”

”Ya udah, nes. Jodoh aja! Biar lo cepet kawin!” seru Momon bersemangat. Aku juga tidak tahu kenapa si Momon begitu gerah dengan status jombloku. Asal ketemu teman cowoknya di manapun, pasti selalu dikenalkan padaku dan digoda-goda, ‘Mbok ya tanya nomor telponnya!’ kata Momon di satu kesempatan ketika bertemu temannya di jalan, atau ‘Eh, ines bilang dari dulu cari dokter loh. Untuk menjamin masa depan.’ Katanya lagi pada seorang dokter fresh graduate di dalam suatu acara gereja. Seandainya dia tahu. Kalau setiap kali dia melakukan itu padaku, rasanya ingin kuikat dia dan kulem mulut cabenya, lalu melemparnya ke jurang xixixixixi.

“Mas, saya mau diramal karier deh.” Akhirnya, aku memutuskan. Aku disuruh mengambil 3 kartu dan memberikannya pada Mas Jay. Pria berkacamata itu sempat diam beberapa saat dan kemudian mulai berbicara. Dia bilang padaku kalau selama hidupku aku selalu berada di bawah kekangan papaku. Dan papaku telah merancang rencana ke mana aku akan bekerja setelah lulus. Kemungkinan besar, aku tidak akan bisa menolak papaku dan akhirnya bekerja sesuai keinginan dia. Mas Jay juga bilang di pekerjaan itu nanti, aku tidak menemukan jiwaku dan akhirnya aku mengalami keterpurukan emosi yang berkepanjangan dan memang sebaiknya aku keluar dari pekerjaan tersebut, walau pekerjaan itu akan mendatangkan materiil yang terbilang banyak. Dalam hatiku, aku bertanya. Bagaimana bisa Mas Jay tahu soal papa dan pekerjaan yang ditawarkan padaku? Gilaaa..... Tapi yang lebih mengagetkan adalah....aku dianjurkan untuk keluar dari pekerjaan itu dan menemukan pekerjaan baru yang membawaku pada puncak kesuksesan. Ketika kutanya, pekerjaan apakah itu, Mas Jay menyuruhku untuk mengambil 1 kartu lagi.

Dia bilang, pekerjaan yang membawaku sukses adalah yang berhubungan dengan dunia.....



F-I-N-A-N-S-I-A-L


Momon tertawa.


Aku terdiam seribu bahasa.


Aku tahu, Momon saja tahu kalau aku tidak pandai mengatur keuanganku sendiri. Lalu, bagaimana ceritanya aku bisa terjun dalam dunia finansial? Aku pun mulai meragukan ilmu si tukang tarot. Tak mungkin lah yauuuu. Aku pun protes pada Mas Jay kalau aku sebenarnya ingin terjun di dunia seni, entertainment, atau menjadi orang di belakang layar. Tapi, Mas Jay bilang kalau finansial yang dia maksud mungkin berhubungan dengan dunia itu. ’Yeah, whatever’ pikirku. Lalu, aku meminta untuk diramalkan jodoh. Si Momon terkekeh ketika mendengar permintaanku.


Tiga kartu terpampang di depan Mas Jay.


Dia bilang......

”Orang yang kamu sukai saat ini adalah orang yang cerdas dan sangat aktif dalam organisasi mungkin, atau dalam hubungan sosial yang luas.”


Damn. Dia benar lagi.


”Dia orang yang selalu berpikir rasional, berhasil dalam studinya dan seorang pemimpin dalam komunitasnya. Sayangnya, kamu merasa ada sesuatu yang menahan kamu untuk mendekati dia. Kamu sepertinya minder terhadap dia. Padahal kamu tuh punya sesuatu yang selalu menarik bagi dia. Tapi, kamu tidak tahu itu. Ada kesempatan kalau kamu mau berusaha, tapi memang persaingannya tidak gampang. Karena begitu banyak gadis yang juga tergila-gila padanya.”

Ya, Tuhan. Kenapa Mas Jay bener lagi sih? Dan juga, kenapa dia ngomong itu pas ada Momon di sebelah? Haduh! Ketahuan deh! Yang soal minder itu pun bener, walau aku ngga mau mengakuinya. Habisnya, he’s so damn perfect seh. Dan, aku tahu diri tentu saja. Aku lebih memilih mundur daripada nanti malah menggandeng gelar ‘cewe genit’ atau gelar apapun kalau aku tetap ngotot untuk mendapatkan dirinya. Jadi, lebih baik mengagumi dari jauh kan’? Pedih sih emang. Pedih banget. Apalagi kalau aku tahu dia dekat dengan puluhan cewek yang jauh jauh jauuuuuuuh....lebih layak dari aku.

But, I love him.

Bayangkan saja. Untuk mengatakan hal ini pada orang lain saja sudah sangat sulit. Mas Jay juga bilang hal ini pula loh (red: katanya aku tak berani bilang pada temanku sendiri kalau aku mengaguminya).

Mas Jay pun lalu meneruskan ramalannya.....

”Tapi, kemudian kamu bertemu orang lain. Sepertinya, kalian nanti bertemu dalam dunia kerja. Dan dia orang yang sangat keras, disiplin, berusaha mewujudkan idealisasinya. Dia orang hukum. Mungkin juga dia jaksa, pengacara, atau polisi. Karena kartu dia, ’the justice’.”

Tawa Momon langsung meledak kayak petasan.

”Waaaa....jangan-jangan si Didi nih jodoh kamu.....Ciyeeeeee.” goda Momon. Hidih ogah banget sama Didi. FYI, Didi itu teman sekampusku di kampus hukum. Dia tuh ya cowok yang nggak banget. Kerjanya tuh narsis gituh, trus suka moto-moto ga jelas, nutupin bayangan aku pas aku lagi dipoto, majang-majang poto aku yang jelek-jelek di fb, ngata-ngatain orang, ngadu narsis ma aku. Eh plis deh yaaaa. Masih kerenan aku gituh loh, tapi masih juga dia ngotot.

Setelah itu waktu berjalan semu. Aku biarkan Momon tertawa lepas sampai puas hingga akhirnya dia berhenti sendiri dan memintaku bertanya soal ’itu’.

Apakah soal ’itu’ itu?

Jadi, begini ceritanya. Aku pernah merasakan hal-hal yang bukan berasal dari dunia ini. Yeah, beberapa orang boleh tertawa dan bialng aku pembohong. Ya, monggo. Aku ngga keberatan karena aku sendiri masih nggak yakin. Tapi, anehnya si Momon ini percaya dengan my 'hidden power'. Eh tauk-tauk, pas aku membagi keraguan padanya, dia lama-lama jadi ikutan nggak yakin kayak aku. Hahahaha.

Aku pun cerita pada Mas Jay soal itu.

Mengejutkan.

Aku belum selesai cerita...baru di saat aku bilang ‘....aku kek bisa merasakan hal yang tidak semestinya....’ Mas Jay langsung motong omonganku.

“Aku tahu kok kamu ada semacam indra keenam begitu. Dari tadi kelihatan jelas. Sepertinya itu turunan dari pihak papa kamu ya?”

Saudara-saudara. Saya kalah telak. Dia juga tahu soal itu. Dan itu benar banget. Jadi, konon katanya. Kakeknya papaku adalah dukun yang termasyhur di kampungnya. Saking tinggi ilmunya, dia sampai-sampai tidak bisa mati. (red: akhirnya dia bisa mati setelah melakukan ritual selama sebulan).

Mas Jay memintaku untuk memgambil 3 kartu lagi. Dia bilang kekuatanku ini akan semakin kuat ketika aku sudah bekerja nanti. Malahan, aku dianjurkan menjadi tukang tarot seperti Mas Jay. Pria muda itu lalu bercerita soal kehidupan masa lalunya dan membagi pengalamannya yang tidak biasa padaku. Dia juga secara langsung menyuruhku untuk lebih mempelajari bagaimana untuk mempertajam instingku dan lebih mengawasi alam atau keadaan di sekitarku yang selalu memberiku pertanda kalau ada kejadian buruk yang akan terjadi. Mas Jay juga bilang agar aku untuk bersiap-siap kalau kekuatan sixth senseku sudah sempurna. Tentu saja aku yang sekarang belum siap menerimanya. Jadi, masih butuh waktu katanya. 

Hiiii........

Kalian pernah dengar tidak yang begituan?

Minta diramal, tauknya malah disuruh jadi tukang ramal.

Haduh, aneh-aneh saja pengalamanku hehehe.