Tampilkan postingan dengan label Kata-kata tak terucapkan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kata-kata tak terucapkan. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Oktober 2011

Day 2 + Day 3

Hari 2 dan 3, I must say it didn't go well.

Tapi bukan berarti kalau gw kembali ke ZERO alias nol. Pernah ngerasa jantung keiris-iris dan dada lo serasa ada lubang hitam gede yang bisa nelan elo hidup-hidup? Yep, itulah gw dua hari belakangan ini. Belum lagi gw mendengar fakta-fakta aneh tentang dia dan juga tentang gw sendiri yang gw dengar dari mulut orang lain.

Gila yah capek gw. CAPEK.

Belakangan gw hancur banget. Gw dengar hal-hal yang jelek tentang dia, bukannya gw jadi il-fil tapi malah jadi kepengen lari ke tempat dia. Gw pengen peluk dia erat-erat dan nangis sekeras-kerasnya di pelukan dia, "Nggak, gw tauk lo ngga kek gituh. Gw tauk lo pria luar biasa yang selama ini gw sayangin. I know you're not perfect, but I don't know why that's the reason I love you like this. Please, don't ignore me ever again. Just let me love you and let me be by your side. I'm not monster like you said. Though I never showed it to you, but I always have taking your side."

But, If I ever said those things to him, don't you think that make me a pathetic person? -sigh- And he will likely to step on my pride again, and of course, if that happen I'm afraid I'll bring him the wrath of Frey unconsciously.

Jadi, gw cuma bisa kuatin diri dan berkata sama diri gw sendiri untuk kembali ke rencana semula. Biarin tangan Tuhan yang bekerja kalau emang Dia ngga mau hubungan gw kek gini sama dia. Bukannya gw pasrah dan gak mau usaha, tapi hubungan pertemanan pun juga termasuk keputusan Tuhan, kan'?

Gw capek kalo gw usaha ternyata malah bikin drama baru lagi.

Let God work this time.

Jumat, 30 September 2011

Sedih, Tuhan


Saya sedih, Tuhan. Mengetahui bahwa telah lama dia tidak mempedulikan saya. Telah lama dia tidak mempercayai saya. Telah lama dia tidak mau tahu tentang saya sedikitpun. Dia bilang dia tidak mau terkait hubungan apapun dengan saya.

Tuhan, sudah lama saya berusaha dan blog inilah saksinya. Sudah berapa postingan saya tulis kalau saya ingin menyerah, tapi semuanya hanya angan belaka. Sesudahnya saya mendapati diri mengejar-ngejar dirinya untuk dihina dan direndahkan, lalu harga diri saya terpelanting jauh ke dasar bumi.

Sudahlah, Frey.

Apa kamu ngga capek?

Banget. Saya capek banget.

Baiklah, saya putuskan mulai saat ini. Saya ngga mau ngomong lagi sama dia. Nggak mau lagi ketemu dia. Nggak mau lagi dengar tentang dia. Cukup, sudah.

CUKUP!

Tuhan, tolong kuatkan saya untuk tidak mengejarnya lagi.

Senin, 26 September 2011

Bayangan Tentangnya





Dia bayanganku.
Berwarna hitam kelam, berukuran lebih besar dariku.

Semua orang bilang kami serupa. 
Kami berdua adalah refleksi satu sama lainnya.
Semua bilang kami seolah ditakdirkan bersama.
Tak ada yang lain untuknya.
Tak ada yang lain untukku.
Kami saling mengisi.

Itu kata mereka.

Aneh, aku tidak merasa demikian.
Bertengkar. Baikan. Saling menyalahkan. Sumpah serapah. Baikan. Kata-kata tidak bertanggung-jawab. Ego. Fitnah. Baikan. Terjerumus konspirasi. Diadu domba. Dimanipulasi. Saling membenci. Baikan. 
Dan terakhir, dia terlalu lelah dan dia menyerah. Dia pergi begitu saja.

Aku tidak menyalahkannya. 
Mungkin sudah suratan takdir.
Mungkin dia sudah terlalu penat.
Mungkin aku tidak penting baginya.
Mungkin ini yang terbaik bagi kami.

Masih kuingat satu kalimatnya di benakku.
"Lebih baik kita tidak menjadi teman sekalian kalau itu artinya kamu tidak disakiti lagi."

Itulah dia. Itulah kenapa aku jatuh hati setengah mati padanya.
Namun, sudahlah. Cukuplah semua ini. Aku juga sudah lelah.

Jika Tuhan memang ingin kita bersama, kita akan tetap bersama bagaimanapun keadaannya.

Tidak peduli walau semua orang tidak suka kita bersama, walau semua orang menghasut kita, walau semua musuh kita berusaha mengadu domba, walau keluarga kita menentang, walau kita dipisahkan jutaan mil jauhnya, walau kita saling membenci, walau kita terlalu sering bertengkar, walau kita sering saling berbohong satu sama lain, walau kita mempunyai selera musik yang berbeda, walau aku membenci aktor idolamu, walau aku berubah di matamu atau kau di mataku...

Tidak peduli bagaimanapun situasinya....
Jika Tuhan ingin kau untukku dan aku untukmu...
Kita akan bersama.

Aku percaya.

Senin, 04 April 2011

Tragedi Malming lagi?!





Jumat malam gw telpon seorang teman, menanyakan gosip-gosip terbaru selama seminggu ini dan juga keberadaan dirinya yang tiba-tiba menghilang ngga jelas. Bilang saja nama cewek ini E.S.

"Oi, nes. Gw lagi mo berangkat ke Surabaya nih."

"Ngaco lo ke Surabaya?! Bukannya kita mau ke Jatim bareng? Kenapa lo mendadak gitu pergi ke sana sendiri kagak ngajak gw? Gw kan' ada perlu ke sana."

"Kalem, cz. Nanti kita jadi ke sana bareng. Aku ada perlu penting banget ke Surabaya. Nanti deh aku jelasin sekalian nti kuceritain cerita lucu si dokter brengsek itu."

"Tunggu deh. Lo ke Surabaya udah ijin kan' ke nyokap lo?"

Diam sebentar.

"Y-ya iyalah, cz. Kau tenang aja."


Eh tauk-tauk besoknya dua temannya E.S (Rina dan Lina) telpon gw nanyain keberadaan teman gw ini. Pas gw bilang kalau si E.S ini ke Surabaya, kagetlah mereka berdua. Pas sore, gw ketemu mereka berdua. Ternyata, Si E.S kabur dari rumah sama pacarnya. Semua boroknya kebuka semua. Dari A sampai Z. Rina dan Lina shock banget dengar borok si E.S langsung dari mulut nyokapnya sendiri.

"Asal kau tahu, Nes. Si E.S bilang kalau kau bisa punya teman itu gara-gara dia. Kau juga katanya pengikut sejati dia."

Aish. Segitunya si E.S. Ya emang gw bisa kenal si Rina dan Lina dari dia. Bahkan gw bisa kenal si dokter brengsek pun dari dia, tapi bukan berarti pergaulan gw itu secetek akuarium yang cuman di situ-situ doang. Jelas gw nggak terima dibilang gw bisa punya teman gara-gara dia. Pergaulan gw cuman sekitar dia doang, soalnya dia yang nggak sudi hang out sama orang lain. Tapi begonya gw, gw malah ikut-ikutan dia, padahal gw bisa aja berteman dengan banyak orang. Misalnya, kek Ina yang berprofesi sebagai model, yang notabene dia bisa memperkenalkan pergaulan dunia model yang suka berlenggak-lenggok di panggung catwalk, atau si Martin yang punya manajemen artis, yang tentunya bisa buat gw kenal langsung artis-artis yang seliweran di tv, atau Karen yang biasa bergaul ama eksekutif-eksekutif muda sukses. Dan selama ini si E.S secara ngga langsung membatasi pergaulan gw, karena menurut dia si Ina itu lonte, si Martin itu belagu dan sok, dan si Karen itu penggila om-om.

Gw malah diejek-ejek kalo misalnya gw kegap makan siang ama Ina, Martin atau Karen, dan orang lainnya yang berada di luar zona nyaman si E.S.

Lihat aja gw bakal buktiin ama dia kalo gw tuh bisa punya BANYAK TEMAN tanpa dia. Gw bakal tunjukkin kalo gw tuh nggak sama kek dia, yang gaulnya cuman sama orang-orang kelas bawah doang. Banyak sih banyak, tapi nggak ada temannya yang selevel ama ane. Amit-amit dah cuman gituh doang, dia udah bangga! Pret Cuih.

So, yeah. Langkah pertama yang akan gw lakuin adalah, mulai ngobrol lagi sama Ina, Karen and nge-gebet si Martin lagi dengan harapan untuk menjaring pergaulan yang lebih luas lagi. Gw PASTI akan buat si E.S kaget setengah mati ngelihat perubahan gw ini.

YOU'LL SEE, E.S!!!!

YOU'LL SEE AND REGRET! HA!!!

Kamis, 24 Februari 2011

Kamu, Saya dan Para Penjagal




Sedihnya, saya menunggu kamu.
Satu, dua, tiga korban diserahkan pada saya oleh para penjagal.
Tumbal untuk hati saya yang hancur, kata mereka.

Tapi, saya tetap tunggu kamu.

Berapa bulan sudah berlalu?
Sekarang semua orang mulai bertanya-tanya saya ini kenapa.
Otak saya bermasalah? Saya sakit?
Fisik ataukah mental?
Saya sering menangkap basah para penjagal mempertanyakannya.

Saya mau kamu. cuma maumaumaumau kamukamukamukamu. Lalu, datanglah tanda titik. Di pikiran saya.

Para penjagal tidak tahu kalau ada musim semi di sekitar saya sejak kamu datang.
Walau betapa dinginnya musim dingin atau teriknya mentari musim panas, saya selalu merasa tinggal di dalam musim semi yang sejuk. Itu karena kamu.

Ups, saya salah. Para penjagal bisa membaca pikiran saya dari dulu. Mereka sudah tahu.

Satu per satu dengan perlahan mereka mulai menggerogoti fantasi musim semi saya.
PLAK! PLAK! PLAK! Para penjagal menampari saya dengan kitab tebal bernama 'kenyataan'.
Kamu pun berubah menjadi musim gugur. Hanya masalah waktu kamu akan menjadi musim dingin yang menusuk sampai tulang.

Tapi, entah kenapa.....

Tiba-tiba kamu berubah menjadi musim semi lagi.

Para penjagal mulai berjaga-jaga. Menyingsikan lengan, menajamkan tombak dan berdiri di dekat saya.

Setidaknya saya tidak sendirian jika musim dingin datang lagi.

Terima kasih, para penjagal tumbal saya. ^__^


[Picture taken: http://fc01.deviantart.net/fs19/f/2007/275/3/4/executioners_will_by_jameswolf.jpg]

Sabtu, 11 Desember 2010

Thanks, Bang Jali (I think)

Bentuk kepalanya mengingatkan saya pada bentuk telor. Bulat sempurna. Lols. Dia selalu pergi ke mana-mana dengan senyum mengejek di wajahnya, entah sedang mengejek siapa. Lalu, cara berjalannya seperti maling yang beroperasi di dekat pos siskamling, tip-toe-ing gituh, walau sebenarnya gak juga sih, tapi kesannya memang seperti itu. Dia selalu sukses menjadi joker di tengah keramaian, PELAWAK UEDAN!!! Sang Sule di tim konspirasi kriminil batak di kantor wkwkwk (membayangkannya saja sudah sukses membuat saya tertawa bak nunung-nyaris-ngompol)

Singkat cerita, di siang itu, teman saya sedang membuka-buka halaman social network paling terkenal sedunia. Saya ada di sampingnya, dan si bang Jali bersama partnernya yang membentuk duo pelawak terkenal itu datang ke teman saya tiba-tiba.

"Ito, carikanlah cewek buat kami."

BWAKAKAKAKAKA. Tampang mereka sangat memelas, seperti sedang sakaw belaian kasih sayang lawan jenis (lagian sih mereka keseringan maen belai-belaian sesama jenis wkwkwkwk)

Temanku langsung memberi foto-foto para korban yang ada di networking terkenal itu. Mulai dari siska. febi. tias. tri. balik lagi ke siska. lalu pindah ke nama baru. Ow, marga manullang tidak bisa, bere-nya kata si bang jali. lalu, ke tanjung, bukan batak toba, katanya, ditolak. Dan, simbolon. Bang Jali langsung komen, "Marga Simbolon itu bagak roha, bagak bodina, bagak otakna. Bagak ma sude." Saya mesem-mesem senyum malu-maluin sambil membulatkan mulut. "Makasih ya bang." Si bang Jali kebingungan kenapa saya malah ngomong makasih wkwkwkwkwkk.

Dan Hap. Teman saya lanjut ke foto Hanna.

Bang Jali: Bah, nggak bisalah ito kita ama si Hanna ini. Kita harus punya mobil mersi dulu baru bisa ajak dia.

Loh kok abang tauk?!

Kita tes dengan temen-temen kita semua. Terpaksa foto diputar ulang lagi dari siska, febi, tri, tias. OW OW OW BENER SEMUA!!! Dan semuanya ditebak dalam hitungan detik.

Dia bilang si A sangat pencemburu, si abang nanti nggak bisa ke mana-mana. Lalu si B memang baik, tapi keras kepala dan tidak setia pada pasangan. Si C berasal dari keluarga sangat sejahtera, dia tipe cewek yang bisa menenangkan orang lain. D, parbada, cerewet.


Me: kalo gituh ajarin ke kitalah ilmu abang. Biar kita bisa pilih pasangan hidup yang pas.
Bang Jali: Yasudah. Kasih liatlah poto cowokmu.

Dan saya pun langsung kasih tunjuk foto dia, Mr. Exotic skin.

Honestly, the reason why I show his picture is actually to confirm whether he's too good to let go, or thank God he let me go. But, the result is, all people in the room burst in laugh. Quite loudly when they see his picture.

Bang Jali: Orang macam ini, nes? Becanda kau? Kek gini cowok yang kau sukain? Akh, bodohnya kau. Masih banyaklah orang batak jauh lebih bagus dari dia.

Dan, Bang jali bilang alasannya, kenapa dia, Mr. Exotic Skin dan saya tidak bisa bertahan. Dan semuanya benar. Maaf, tidak bisa bilang secara detil karena ini mengenai masalah orang lain.

Bang Jali: Kamu enggak cantik, nes, tapi naburjuan na hamu. Burju do hamu. Itu pesonamu.

Dan kenapa juga si abang malah ngomong kek gituh tiba-tiba? *bentokkin kepala ke tembok* Mungkin dia ngerti soal pede crisis pasca pencampakkan diri oleh si dia wkwkwk.

Thanks bang Jali to get me realize that he's not worth it. That I'm too good for him. That he's not good enough for me.

Thanks bang, for confirming what God's been saying to me, that I will get a better person than him. And well, I've found it. I hope that he's 'the one' this time, coz he definitely better than him. I pray to God, he is and may he will be.

Amen.

Sabtu, 23 Oktober 2010

Goodbye my Almost Lover




Hari itu dia menjemputku di stasiun. Kulit eksotis, kacamata bergagang hitam, helm hijau mengkilat.
Senyumnya melebar saat bertatapan denganku.

“Memangnya ada kriminal pake bilang ‘segera ke tkp’ segala?!”

Dia bicara soal isi smsku.

“Yah biasalah omongan orang keren kan’ memang kek gituh.”

Dia tersenyum. Aku juga.

Kami diam-diam saja di sepanjang perjalanan.
Berbicara entah apa yang kami candakan. Aku tidak ingat.
Sampai aku akhirnya memutuskan untuk bicara soal yang penting.

”Vid, ini mungkin akan jadi pertemuan kita yang terakhir.”

Dia hanya menepuk lututku.

”Baik-baik ya di sana.”

Cuma itu pesannya.

Pertemuan terakhir kami sebelum aku pergi ke kota lain adalah di depan gang tempat kekasihnya berada.
Aku pulang membawa seratus macam perasaan dan aku tahu aku nggak bisa menahannya.
Aku ambil telponku dan kutelpon semua orang yang muncul di pikiranku.

Welly. Tidak diangkat.
Niki. Dia baru pulang kerja dan sedang mandi.
Ell. Tidak diangkat juga.
Dan akhirnya, Hota atau si tuan mata tajam. Dia mengangkatnya.
Hatiku tenang saat dia menjawab telpon. ”Kenapa, nes? Ada apa?”

Dua jam aku tertawa, menangis, kemudian tertawa lagi dan menangis.
Di telpon. Dengan dia. Sahabat saya.

"Hota, why God make me love him from the start if it's just to hurt me?"

"It's God meant to make you wiser and stronger. You shall find true love when time flies. You shall forget him and smile remembering him. For now, just say goodbye to him. Say goodbye from your heart."

"What if I can't and I will still love him?"

"You can if you say you can. You can't if you say you can't. What's your choice?"

"Goodbye, Mr. Exotic-skin. Goodbye to your beautiful smile and your tender, loving warm heart. I will move on and have a fabolous life. Goodbye, my almost lover."

Rabu, 20 Oktober 2010

Kau tidak sendiri, sayangku





Hatiku hancur, sahabatku.
Seolah jantung hendak membuncahkan segala isinya dan rongga dada tak mampu menampungnya.
Seolah rohku terhisap pergi entah ke mana, menyisakan raga kosong di sana
Aku hancur saat kamu menuangkan deritamu sore itu.
Otakku berhenti bekerja, dan dunia seakan bergerak lambat.

Aku hanya bersandar pada bantal, menangis lirih, dan juga berteriak dalam sunyi.

“God, what are You doing?”

Aku berdoa, memohon, meminta Tuhan. Tolong, Alfa, jadikan ini mimpi. Tolong, bangunkan aku dan bilang bahwa semua yang kudengar hanyalah mimpi. Alfa, kumohon. Sangat.

Aku bayangkan jika berada di posisimu, sahabatku.
Aku bayangkan setiap hal yang kau alami. Malam di mana neraka itu datang.
Aku bayangkan aku berada di sana, membunuh iblis yang menjadikanmu tawanan,
Dan aku bersumpah, sahabatku.
Jika aku ada di sana, akan kuambil jantungnya untukmu.
Dengan kedua tanganku sendiri.
Aku akan tertawa puas, menemukan diriku berdiri di atas kolam cairan merah milik sang iblis.

Sahabatku....
Seseorang, atau sesuatu mengambil jiwaku sore itu.
Aku tak mampu sekedar berdiri atau berjalan.
Di sana, di atas tempat tidur di mana aku berbaring saat menerima telponmu, aku terbujur lemah tak berdaya. Mataku terfokus pada satu titik di tembok. Sama sekali tidak berpindah.
Lama sekali aku terperangkap di posisi itu.

Apa yang bisa kulakukan untukmu, sayang?
Apa yang harus kulakukan untuk menolongmu?

Aku ingin memelukmu kuat-kuat. Tak peduli jika satu-dua rusuk memberontak kesakitan.
Aku ingin kau menangis sekencang-kencangnya di pelukanku, mengeluarkan rasa perih di dalam dadamu.
Keluarkan semuanya. Kemudian, lupakan. Lupakan malam neraka itu.
Tak peduli apakah itu akan menghabiskan waktu berminggu-minggu atau bertahun-tahun, aku ingin selalu di sampingmu, memegang tanganmu, membuatmu mengerti kalau kamu tidak sendiri.

Nggak, sayangku.
Kamu selalu punya aku.
Jangan bilang kalau kamu mau mengakhiri hidupmu yang berharga.
Jangan katakan hal-hal sia lainnya yang kubenci.
Tak tahukah kamu akan menyiksaku jika kamu pergi?
Apa kamu setega itu padaku?

Kamu mau aku setiap hari menangisimu?
Menganggap bahwa kepergianmu selamanya adalah kesalahanku, karena aku yang tidak mampu menjagamu.
Apa kamu mau membuat aku berpikir bahwa aku adalah orang yang tidak berguna, bahkan aku tidak bisa menyelamatkan orang yang berharga buatku?

Kumohon jangan seperti itu, sayangku.

Kau tidak sendiri.
Aku tidak akan membiarkanmu melalui semua ini sendiri.

Rabu, 13 Oktober 2010

What is Love to you, dear?




Pernah, si tuan kulit eksotis bertanya pada saya, “What is love to you?”

Mau tak mau pikiran saya melayang pada beberapa tahun lalu saat hati saya masih tertawan oleh makhluk Alien. Dia juga pernah bertanya hal yang sama. Deja-vu.

“Kamu duluan. What is love to you?” Malah saya yang berbalik bertanya pada si tuan kulit eksotis.

“Buatku, cinta itu adalah darahku.”

Kemudian dia bercerita tentang kisah lamanya. Kisah cinta yang membuat dirinya tersayat-sayat penuh kesakitan, mental dan fisik. Bahwa dia sangat menghargai cinta seperti dia menghargai tiap tetes darah yang mengalir di tubuhnya. Bahwa dia adalah pribadi yang sangat menjunjung tinggi arti cinta di atas segalanya, dan itu juga yang sering membutakan matanya, dan melumpuhkan segala penginderaannya, termasuk akal sehatnya.

Saya tersenyum pahit, masih mengingat makna cinta dari seorang alien.

“Cinta kamu tidak masuk akal, nes. Buat aku, cinta itu tumbuh karena saling mengenal satu sama lain, dan tanpa kita sadari, kita jadi makin membutuhkan satu sama lain.”

Sangat logis pemikirannya. Dia pun berkata demikian karena saya sebelumnya sudah menjelaskan bagaimana perasaan menggila di dada saya padanya bermulai. Dan itu juga yang saya ucapkan pada si tuan kulit eksotis. Kurang lebih sama.

”Buat aku, cinta itu haruslah sebuah chemistry. Sebuah rasa ketertarikan tanpa alasan jelas. Sangat misterius, dan tidak bisa dijelaskan oleh pikiran sehat, tapi sangat nyata. Buat aku, rasa itu harus sudah ada bahkan pada pandangan pertama. Memang sangat perlu untuk mencintai seseorang dengan alasan, tapi buat jenis orang seperti aku yang mudah bosan dengan semua hal, mencintai orang lain dengan alasan sama halnya saya yang suka menggonta-ganti baju begitu saja. Karena begitu alasan itu hilang, saya tidak lagi mencintai orang itu. Perasaan saya langsung hilang semudah saya menyingkirkan debu dari tangan saya. Tapi ketika saya mencintai orang tanpa alasan, walau orang itu berubah sekalipun, sampai akhir hidup saya, saya mungkin akan tetap mencintainya. Selamanya nggak akan berubah, walau sudah sekuat tenaga berusaha untuk menghilangkannya.”

Sebenarnya, saya tidak pernah sejelas di atas ketika mengungkapkan perasaan saya. Seringnya sih mungkin karena saya begitu gugup dan salah tingkah berada di samping si tuan kulit eksotis, maupun si alien. Jadi, mungkin sampai saat ini, mereka tidak mengerti arti perasaan saya.

Tapi, banyak juga teman-teman terdekat saya yang memberi tanggapan soal perasaan yang segila itu.

El, adik saudara jauh, sekaligus sahabat dan soul mata saya, bilang ”Cinta elo nggak nyata, nes. Cuma ada di dunia khayal doang. Gue nggak ngerti dan nggak percaya dalam hal ’cinta’.”

Rosa juga pernah bilang, ”Bener sih kata kamu. Aku juga ngerti banget.” Masalahnya, dia itu sama persis juga kayak saya hahaha. Makanya, dia sangat mengerti soal perasaan saya.

Ada juga yang kemudian sangat mengagumi perasaan saya dan terus menyemangati saya. Ada juga yang sangat kaget seorang saya yang bisa memiliki perasaan seperti itu (karena di pikirannya, image saya itu adalah robot tak punya hati). Dan beberapa orang menyuruh saya berdoa lebih khusyuk, untuk sepenuhnya berserah pada Sang Khalik agar diberikan pencerahan terhadap perasaan saya yang sesungguhnya.

Yep, saya tahu semua orang benar dan tidak ada yang salah.

Saya harap semuanya mendoakan saya, agar bisa diberikan pencerahan dalam waktu singkat.

-SIGH-

Senin, 11 Oktober 2010

Happy for You, my dear bff




Sungguh, saya turut bahagia untuk kamu.
Kamu yang nyaris serupa dengan saya.
Mudah terlena dengan kaum adam berkulit pualam dan halus seperti boneka.
Namun mudah pula menghilangkan perasaan suka dari hati semudah menyingkirkan debu dari atas pundak.

Kamu yang sekalinya mencintai seseorang, malah membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk melupakannya.
Kamu yang selalu menggunakan intonansi bicara keras saat mempedulikan seseorang.
Kamu yang selalu terbata-bata dan salah tingkah saat berbicara dengan orang yang disukai.

Kamu dan aku. Berasal dari planet yang sama.
Kamu dan aku. Makhluk sejenis yang kebetulan menjadi sahabat.

Ini rahasia. Beberapa tahun lalu, tahukah kamu saya mengalami ’kehancuran mental’ yang luar biasa hebatnya?
Ya, saya baru saja mengalami fase di mana saya mengasingkan diri dan menjauh dari peradaban manusia.
Saat saya bertemu kamu, saya baru saja melakukan terapi dengan psikolog.
Saat saya bertemu kamu, saya selalu membungkus tubuh saya dengan jaket untuk menutupi dua lengan penuh luka-luka sayatan pisau.
Saat saya bertemu kamu, saya memutuskan untuk acuh tak acuh dengan semua orang.

Tidakkah kamu merasa heran mengapa saya nyaris tidak berbicara dengan hampir separuh lebih orang di dalam kelas?
Bahkan, saya nyaris tidak mengetahui nama mereka semua tanpa kamu di sisi saya.
Apa kamu tidak bertanya-tanya dalam hati mengapa saya hanya berbicara dengan kamu dan teman kita yang satu lagi?
Ataukah diam-diam kamu sudah curiga saat saya sering tidak masuk kuliah dan selalu mengasingkan diri di dalam kelas?
Ya ya ya, saya tahu. Mungkin nilai-nilai saya yang bagus nyaris menghilangkan kecurigaanmu.
Atau karena keaktifan saya di kelas yang selalu mendebat dosen membuat kamu merasa kalau saya ini mungkinlah hanya orang pendiam?

Jujur, saya berterimakasih sekali sewaktu kamu, tanpa alasan, membicarakan tentang buku komik yang merupakan hobi saya.
Berawal dari hal sesimple itu kita berkembang menjadi sahabat seperti sekarang.
Memang prosesnya sendiri tidak mudah.
Mungkin kamu tahu ketika saya membicarakan kekuranganmu pada teman kita yang lain.
Saya minta maaf.
Seiring waktu, saya kini tahu siapa yang benar-benar teman, siapa yang bukan.

Ya, sekarang saya turut senang perihalmu.
Kamu yang selalu minta dukungan kami untuk mengejar pria-pria impianmu.
Dari si tuan ’charming-but-jerk’, lalu si tuan ’perfect-smile-and-smooth-skin’, tuan ’pipi babi imut’,
Dan terakhir ini, si tuan-diam-diam-mencuri-hati yang kini menjadi pasangan resmimu.
Saya senang kamu akhirnya mendapatkan seseorang yang benar-benar sesuai denganmu, walau perjuanganmu belum berakhir sampai di sana.
Tapi saya senang...

Kisahmu tidak berakhir seperti kisah saya.
Setidaknya kisahmu menjadi embun penyejuk di hati saya.
Kamu bahagia. Saya juga, sahabat tersayangku.



PS: Tulisan ini terlarang untuk Rosa. Gue tahu lo pasti ngakak guling-guling sambil teriak kencang, ”LEBAY BANGET LO NES!!!!” Plis deh. Mau ditaro di mana nih muka kalo elo ngomong gitu?! Tapi serius, gue benar-benar seneng banget denger elo udah nggak sendirian lagi wkwkwkwk.

Oh ya, tulisan ini juga terlarang untuk my best girl Mon-Mon. Gue tahu lo dengan segala isi dunia kesinisan elo akan berkata apa. Iyeh, gue juga tau elo sirik mampus wkwkwk. Tenang, Mon. Gue juga akan buat hal serupa kalo elo ngga jahat ama gue wkwkwk.

Senin, 04 Oktober 2010

My Blasted Saturday Night



"Misfortune shows those who are not really friends."
- Aristotle

Jauh sebelum hari itu, saya membuat keputusan besar. Untuk memulai kehidupan baru, untuk masa depan yang lebih baik, untuk meninggalkan kota yang telah saya tinggali selama enam tahun. Dan itu artinya, saya meninggalkan teman-teman saya, semua sahabat yang sudah saya anggap sebagai saudara sendiri, dan yang paling membuat saya berat adalah tidak lagi melihat dia, senyuman dia dan tak lagi mendengar suara khasnya.

Berhari-hari saya bergumul ingin memberitahunya tentang keputusan saya. Saya yang baru belajar mempercayainya, ingin sekali kembali pada masa lalu di mana kami hanyalah dua orang yang bercengkerama akrab di dalam kafe favorit kami. Tak peduli pandangan orang lain pada kami, tak peduli apa nama minuman kami dan bahkan segala di sekitar kami, kami menjadi diri kami sendiri di sana, hanya memperhatikan bahasa tubuh masing-masing. Lantas suara lirihnya memenuhi indera pendengar saya, berdua tenggelam dalam pembicaraan serius dan sesekali tertawa karena hal-hal kecil.

Saya hanya ingin itu. Tak lebih.

Alih-alih saya malah mengirimkan sms 5 lembar padanya. Dalam bahasa Inggris yang menyatakan bagaimana perasaan saya, bagaimana hancurnya hati saya, pertanyaan yang selalu merongrong pikiran saya, dan terakhir ucapan selamat tinggal.

Saya tahu dia tidak akan membalasnya. Orang biasa pasti begitu.

Tapi, kami bukan lagi orang asing yang tidak saling mengenal karakter masing-masing. Tidakkah ia tahu bagaimana karakter seorang saya yang sudi-sudinya mengirimkan hal sehina-dina begitu tanpa ada kejadian besar yang melatar-belakanginya?

Dia pasti tahu. Tapi, tetap saja tak sepatah kata 'kenapa' pun melayang.

Hati saya tetap berharap. Bagaimanapun juga saya mungkin tidak akan pernah melihatnya lagi. Teman saya menguatkan hati saya untuk menghubunginya langsung, memintanya untuk bertemu untuk terakhir kalinya.

Tapi yang saya dapatkan adalah nada tegas menyakitkan. Seperti orang yang mengusir orang asing dari pekarangan rumahnya. Seperti orang yang berteriak 'maling' pada orang lain. Seperti orang yang menginjak-injak seorang pengemis yang tak bersalah.

Di mana janji dia yang bilang akan selalu ada saat saya membutuhkan?
Di mana janjinya yang bilang dia akan selalu menjadi sahabat saya?

Saya hanya diam. Tak setetes air mata pun bisa saya alirkan. Mungkin sudah lelah. Atau terlalu sedih. Entahlah, saya juga tidak tahu bagaimana perasaan saya. Sementara pikiran saya berkecamuk. Kenapa? Mengapa? Bagaimana mungkin dia begitu? Dia tidak kenal saya kah?

Penat, saya menelepon salah satu sahabat sekaligus saudara saya.

"Please, I can not be alone tonight!"

Saya langsung pergi, mengambil barang seadanya. Saya bahkan tidak berpikir membawa pakaian ganti. Tubuh kecil mungil yang tingginya tidak lebih dari bahu saya, langsung memeluk saya dan menarik saya ke kamarnya.

"Nes, kenapa cepat sekali kamu pergi? Padahal, kita baru aja dekat."

Dia mengatakannya sambil menangis. Saya tersenyum lebar, memegang tangannya erat-erat, "Saya masih kembali ke sini. Tolong ijinkan saya menginap di sini kalau saya berkunjung ke kota ini."

Hari itu aneh sekali. Saya tidak bisa menangis sama sekali, padahal hati saya remuk redam karena terluka, dan lagi salam perpisahan mengharukan oleh teman-teman. Saya hanya bisa memiringkan senyum, dan memeluk mereka.

Total enam orang kemudian pergi makan malam di restoran terbuka. Salah satu dari kami memanggil seorang pengamen dan memintanya menyanyikan 3-4 lagu kenangan. Kami semua tertawa habis-habisan karena pengamennya berulang kali melakukan kesalahan. Satu-dua orang matanya berkaca-kaca saat bernyanyi. Di akhir, nafas saya tercekat setelah melihat hasil foto kamera yang saya ambil.

"Oh My God. I'm SO GONNA MISS THIS."

Dan beberapa orang melemparkan pandangan heran bertanya-tanya. Wajar, karena tidak semua orang tahu mengenai kepergian saya.

Setelah itu, kami pergi ke tempat karaoke sungguhan. Menari-nari seperti orang gila, bernyanyi sekencang-kencang nyaris berteriak, dan tentu saja bernarsis ria. Malam itu sungguh spesial. Saya tak lagi memikirkan dia dan segala permasalahannya.

Kami pun pulang masih dengan mengenang kejadian di tempat karaoke. Si A yang biasa kaku tapi bisa menjadi orang gila dalam waktu instan, lalu si B dan C yang suaranya menggila pada lagu-lagu tertentu. Kami semua senantiasa tertawa hari itu. Jualan gigi kata orang.

Sesampainya di rumah, saya membuka hp. Dua pesan. Dari dia.

"Maaf yang tadi. Aku tadi ke rumahmu, tapi kamu nggak ada. Kamu seharusnya jangan menghubungi aku di jam itu. Just message me on email. Key?"

Saat itu, air mata saya pecah dalam hening. Dua orang di samping menemani saya.

"Kak, he's so weird."

Just like me, batinku.

Just like me.

Kamis, 30 September 2010

tolong

"Nes, nangis darah aku. Kamu susah dibilangin. Bandal."

Bang, saya juga nggak ada pilihan selain mengeluh, merengek, menangis sama abang. Harap sabar ya bang. Karena setiap saya nelangsa, saya pasti online. Dan satu-satunya teman saya di list cuma abang.

"Inez, you are creature unlike any other. a superfox.. why cry over a little puppy who don't know how much you worth. Liking a wrong guy is like try to fit your foot on a too small shoe. It'll only hurt you and, simply wont fit..."

Saya tahu, tapi hati saya ngga bisa dibohongin. Saya juga nggak ngerti harus gimana lagi.

"Dari mana sih dia? Jerkville atau hellville?"

Nggak tahu. Emang sih kadang saya pernah mikir kalau dia egois banget. Cuman mikir dirinya sendiri. Saya nggak habis pikir bagaimana bisa dia datang ke rumah saya tanpa bilang kalau dia sudah jadian. *sigh* Lalu soal pertengkaran-pertengkaran yang kami miliki. Dia memangnya tidak mikir kalau saya juga sakit? Kalau dia juga telah menyakiti saya lebih sakit? Tapi, saya selalu memaafkannya, dan saya juga tidak mengingat-ingat kesalahannya lagi. Ketika saya menyakitinya, dia malah mengambil tindakan drastis. Menjauhi saya dan mencari orang lain. Egois tidak ya?

Ah, sudahlah.

Bukannya sekarang saya masih mengingat kesalahannya, tapi sekarang saya hanya sangat merindukannya.

Entahlah.

Selasa, 28 September 2010

Saya baik-baik saja



Malam itu teman saya telpon, tapi tidak bisa saya angkat. Akhirnya dia kirim sms,

"Nes, kamu nggak apa-apa?"

Saya juga ngga bisa langsung balas. Satu jam kemudian saya pulang ke rumah.
Lupa sms tadi, saya nyalakan laptop dan online facebook.
Di halaman puncak, saya lihat nama si tuan berkulit eksotis dan nama seorang wanita lain, terimpit tanda merah kecil. Di sampingnya tertulis 'in relationship'

Aneh.

Tak ada rasa sakit di dada saya. Tapi isi otak saya blank sama sekali.
Saya cepat-cepat matikan laptop dan modem, lalu HP saya berbunyi lagi. Sms.

"Nomor +628586754xxx telah menghubungi anda. Silahkan periksa voice mail."

Teman saya berusaha telpon saya lagi, diikuti smsnya yang menanyakan kondisi saya.
Saya balas, "Sudahlah, jangan dibahas. Gw mau hepi-hepi sekarang. Kamu jangan khawatir. Gw punya Tuhan."

Saya pasang walkman di telinga. Volume maksimal.
Lagu yang diputar koleksi album Hillsong. Saya nyanyi keras-keras. Hanya beberapa menit.
Saya ambil buku komik, dan berbaring.
Yah, semua sempurna, pikir saya.

Hampir tengah malam, samar-samar saya mendengar suara ketukan pintu, bersamaan dengan suara dia, suara yang saya kenal baik, suara yang saya rindukan. Tapi pikir saya, 'Ah, itu mungkin khayalan saya'
Tapi tetap saja penasaran. Saya periksa, dan benar...
Dia sungguhan di sana, di atas motor, nyaris pergi.

"Kamu ngapain malam-malam banget ke sini?"
"Kan' kamu yang mau ketemu aku?"
"Tapi kenapa harus malam?"
"Aku cuman bisa malam pergi ke tempatmu."

Kami berbicara singkat. Saya duluan memulainya. Saya meminta maaf, lalu dia meminta maaf. Dia memuji karakter saya. Saya bilang saya tidak suka pujian kosong. Saya menjelaskan perihal lama. Dia bilang dia mengerti. Ketika sampai akhir, saya katakan, "Aku nggak bisa bohong. I still have a feeling for you."

Dia hanya tersenyum lebar. Dia bilang dia hanya bisa menjalani yang sekarang bersama wanita itu. Saya bilang saya mengerti. Saya paham benar kami saling menyukai di waktu yang salah. Saat saya sedang tidak menjadi diri saya sendiri. Saat dia sedang membutuhkan penopang yang dapat membuai dirinya.

Kami terperangkap, saling mencinta di waktu yang salah.
Tapi, ini juga bukan kebetulan.
Ini rencana Alfa.
Saya sadar kejadian ini membuat saya kembali pada Alfa.

Perasaan begini gilanya pada dia hingga dada teriris pisau tak kasat mata.
Hanya Alfa yang bisa berbuat demikian. Dan Dia jugalah yang bisa menghilangkannya.
Jadi, saya baik-baik saja sekarang.

Saya bersama Alfa.
Dia membisikkan janji-janji ke telinga saya.
Janji masa depan gemilang yang luar biasa.

Jadi, terima kasih tuan berkulit eksotis.
Kejadian ini bukan tanpa hikmah untuk saya.
Saya kembali lagi ke diri saya yang dulu,
Saya yang dulu sangat membutuhkan Alfa,
Saya yang tidak bisa tidur tanpa mendengar suara Alfa,
Saya yang selalu menanti keajaiban Alfa.

Tapi satu lagi pesan untuk anda, tuan berkulit eksotis,
Saya sangat bahagia jika anda bahagia,
Tetaplah tersenyum dan berjalan ke depan penuh semangat,

Saya selamanya akan bahagia, jika anda bahagia,
Itu doa saya.
Dan juga pinta saya.

Minggu, 26 September 2010

-SIGH-



Saya nggak bisa bohong
Walau saya mencari peralihan, sahabat, pelampiasan, dan apapun itu namanya yang bisa membantu saya melupakan dia, faktanya saya tetap tidak bisa.

Hari kedua setelah dia meremukkan hati saya, memang saya bilang saya sudah merdeka
Di hari itu saya melakukan sesuatu yang sulit sekali saya lakukan, yaitu memaaafkan dia. Setulus-tulusnya sampai ke urat nadi.
Rasa sakit di dada saya hilang seketika
Saya pikir saya sudah melupakan dia, terutama setelah beberapa orang luar biasa memberikan saya petuah bijak.


Ternyata, salah.


Setelah rasa sakit itu hilang, perasaan saya yang dulu malah kembali lagi
Saya amat merindukan dia

Tolong, saya sudah gila
Saya kehilangan akal sehat saya
Lagi-lagi kata teman saya benar


Sungguh. Saya rindu dia yang dulu
Tahukah dia kalau saya mengenal betul tiap arti ekspresi wajahnya? 
Dan juga semua bahasa tubuhnya.
Saya mengenali salah satu senyumnya yang bernama 'senyum ini hanya untuk wanita yang kucinta'
Ini senyumnya yang paling saya sukai dan membuatnya terlihat paling tampan sedunia
Dulu senyum itu untukku
Sekarang, untuk orang lain.

Saya mengenali salah satu senyumnya yang satir,
Beberapa saat lalu senyum itu untukku
Dan artinya 'saya tidak menyukai anda, tapi saya berusaha baik pada anda'

Tapi, sekarang senyum yang ditunjukkan pada saya adalah senyum hangat lebar seolah dipaksakan
Dan senyum itu bermaknakan 'saya merasa bersalah dan saya minta maaf pada anda'

Namun, tidak hanya itu saja yang saya kenali

Saya juga mengenali bahasa tubuhnya saat dia dilanda masalah
Mulutnya akan terkunci rapat dan dia melihat pada kejauhan


Saya tahu benar kapan dia gembira, kapan dia setengah gembira, atau sangat gembira
Saya tahu kapan dia sedang jatuh cinta, bahkan pada siapa jika mereka berdua sedang saling bicara

Saya tahu kapan dia sedang sedih, setengah sedih, atau sangat teramat sedih



Alfa, saya ingin dia kembali seperti dulu
Memberikan senyumnya yang paling sempurna pada saya
Senyum yang seolah mengatakan 'Aku cinta kamu seumur hidupku'


Mungkinkah itu, Alfa?

Jumat, 27 Agustus 2010

Pusing + STres

Duh saya pusing. Ribut lagi ama si do'i.

Saya juga bingung bagaimana mau ceritainnya. Semuanya super rumit yang semakin lama semakin mengeriting.

Maafkan saya vid, soalnya buat saya bohong putih itu BULL SHIT.
Emang sih lebih gampang kalo kita bohong, jadi kamu ngga perlu marah-marah.
Nggak sakit hati, apalagi menjauhi saya begini.

Saya ngerti konsekuensi dari sebuah kejujuran itu mahal, apalagi kejujuran yang saya lakukan itu tidak pada tempatnya.
Kejujuran saya kali ini akan membawa masalah yang lebih besar. Begitu kan' menurutmu?

Tapi kenapa sih kamu langsung mikir ke arah situ? Kamu tidak tahu masalah apa yang akan datang kalau saya nggak bilang? Kalau saya nggak jujur?
Kita semua akan terperangkap dalam paradigma pikiran yang salah. Kamu sadar?

Dan berdasarkan teori inilah, saya bilang bohong putih itu BULL SHIT.

Kalau memang kejujuran itu menyakitkan, meski akan terlahir sebuah perselisihan, pertengkaran atau semacamnya, menurut saya inilah saatnya seorang yang lain jujur pada diri masing-masing.
Entah jujur dengan apa yang dirasakan masing-masing. Entah jujur dengan yang telah dilakukan masing-masing orang di masa lampau dan malah masing-masing orang akan berusaha jujur ke depannya.

Kita pun menjadi saling mengerti satu sama lain.
Nggak perlu kesalahpahaman seperti ini lagi ke depannya.

Nggak akan ada lagi negative thinking.

Saya tahu cara ini ekstrem, dan mungkin secara umum, cacat total.
Tapi tetap saja, prinsip saya: WHITE LIES DO BULL SHIT.

Jadi, sudahlah rasa sakitmu itu vid.
Gimana pun kamu, I always love you no matter what.
I take you as you are.

Dan please, jangan bilang lagi kamu takut sama saya.
Jangan bilang kalau kali ini hubungan kita tidak akan berkembang lebih dari teman.
Jangan bilang kalau kamu akan menjauhi saya.

Jangan hukum saya vid.

Saya sudah cukup 'terhukum' dengan kamu yang marah sama saya.

Saya sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi.
Kalau Ngomong jujur itu salah, saya berjanji tidak akan berkata apa-apa lagi.
Kamu tahu kan' bagaimana apresiasi saya pada sebuah janji?

Ya, kamu bisa pegang janji saya.

Please vid, jangan cuekin saya.


PS: Ini murni racauan belaka setelah beberapa sms dan telpon membabi-buta tidak digubris oleh yang bersangkutan oTL.

Rabu, 25 Agustus 2010

Ukh, dia kenapa?

Saya berjalan menelusuri lorong dan dia di sana. Tentu, saya pura-pura tidak mengenalnya.
Sedangkan dia sudah memperhatikanku dari kejauhan. Mungkin terheran-heran kenapa saya ada di sana?
Curi-curi pandang sesekali, saya risih melihat bola matanya yang masih mengikuti saya.

WATDEHEL.... NAPA SIH LIAT-LIAT?

Saya masih ingat beberapa tahun lampau, dia dengan senyum meringis manja memanggil nama saya penuh harap, Ines... Ines... Ines, lalu mengekori saya dari belakang. Kalau lihat dia, saya jadi teringat pada seekor anak anjing yang menggoyang-goyangkan ekornya penuh antusias ketika bertemu majikannya. Saya pun dengan senyum nan ramah menyapa dia dan berkata-kata padanya dengan nada suara selembut, sehalus dan seformal mungkin. Mungkin cuman dengan dia suara saya bisa bak peri begitu.

Saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa dia bisa 'nempel' gituh sama saya? Apa karena saya sebegitu charming, mempesona, ramah dan suka menabung? Tapi kami berdua tidak terlalu mengenal satu sama lain. Tak mungkin kan dia tahu kepribadian saya yang suka menabung? Saya perhatikan orang-orang sekelilingnya, tak banyak orang yang bernada ramah padanya. Tidak satu dua kali saya mendapati para kaum hawa mendecak kesal secara terang-terangan ketika berbicara padanya. Mulut mereka memberengut dan mata mereka tajam mendadak saat menoleh padanya, seolah ingin cepat-cepat lari dari hadapan dia.

Lama sekali saya keheranan melihat situasi ini sampai akhirnya perkataan teman saya mengganggu saya.

"Eh nes, cowok elo tuh dari tadi nyariin elo." Teman saya berkata dengan nada kesal.

"Cowok yang mana?"

"Itu yang biasa ngekorin elo."

Sejak itu, teman saya memanggil dia 'cowok' saya. Saya tidak suka. Akhirnya, saya benar-benar menjauhi dia. Saat dia memanggil nama saya dengan nada manja kekanakannya, saya pura-pura tidak mendengar dan kemudian mempercepat ritme langkah kaki saya yang tentu saja tidak bisa dia ikuti. Dia pun tahu saya menjauhinya setelah beberapa lama. Dia berhenti memanggil nama saya sama sekali.

Jauh sebelum saya menjauhinya, sebenarnya saya tahu kenapa para kaum hawa kesal padanya. Saya pun sempat kesal, tapi saya masih berusaha baik padanya jika melihat kondisinya. Saya menjauhinya karena saya risih dibilang pasangannya. Maaf.

Ukh, beberapa tahun setelahnya, saya merasa gelombang perasaan tak enak menyerang saya melihat dia di sana. Perasaan bersalah makin menggunung ketika mengingat bagaimana kaki pincangnya selalu dipacu untuk menyamakan langkah saya. Entah bagaimana perlakuan orang padanya sejak kecil karena kondisinya yang berbeda? Saya seharusnya menjadi bagian dari orang-orang yang bisa membuat dunianya lebih baik. Karena sedari awal, itu mungkin yang menjadi alasannya untuk 'nempel' pada saya, tapi saya malah menjauhinya.

Maafkan saya, Yus.

Senin, 23 Agustus 2010

You don't know me, honey




Saya tidak kenal kamu, itu katamu.
Kamu tidak kenal saya, itu kataku.

Saya tahu saya telah salah merumuskan kamu. Menghakimi kamu dan bahkan marah-marah tak jelas.
Kamu bilang saya perlu memperluas pikiran saya. Melihat segala sesuatu lebih dalam dari kelihatannya.

Saya tahu saya salah.

Kamu sendiri bagaimana?

Kamu bilang gambar diri saya rusak?
Kamu tidak tahu betapa nyamannya saya dengan diri sendiri jauh sebelum saya bertemu kamu.
Gendut ataupun kurus, saya tidak peduli. Saya tahu saya ini spesial.
Saya tahu saya berbeda dengan orang lain dan itu membuat saya bangga pada diri saya sendiri.
Saya tahu saya dilahirkan di dunia dengan begitu banyak talenta dan saya tahu saya diciptakan untuk menjadi kepala bukan ekor.

Saya cinta diri saya.

Pernah tidak kamu telusuri kata-kata kamu sendiri ke belakang?
Bagaimana kamu mengkritik pipi saya yang semakin membengkak?
Kamu ingat kamu pernah berkata lebih baik menyukai orang lain dibanding saya?
Sayangku, tanpa kamu bilang pun saya tahu saya harus memperbaiki diri saya.
Luar ataupun dalam. Fisik ataupun non-fisik.

Bukankah manusia itu memang harus meningkatkan kualitas dirinya hari demi hari agar membuat dirinya berarti?
Saya sudah tahu, sayang.
Terutama jika seseorang sedang di mabuk cinta.
Bukankah ia akan semakin memacu dirinya menjadi lebih baik?

Saya tahu, sayang. Saya perlu berubah.
Tapi perlukah kamu mengatakannya bersamaan dengan kata-kata tidak penting yang sudah pasti menyakiti hati saya?

Baiklah, kamu bilang kamu bercanda.
Tapi walau itu hanya kata-kata tak berarti, pernahkah kamu berpikir bahwa kata-katamu membuat paradigma tersendiri di pikiran saya?

Bahwa kamu adalah salah satu dari pria-pria yang pernah saya kenal.
Bahwa kamu adalah salah satu dari pria-pria bermoral dangkal yang senang memuja banyak wanita.

Salahkah kalau saya bilang bahwa penghakiman saya tentang dirimu berasal dari kata-katamu sendiri?

Benar jika kamu bilang saya tidak tahu dirimu. Dan itulah kenapa saya perlu mengatakannya padamu untuk meminta konfirmasi kebenarannya.

Benarkah kamu seperti yang saya pikirkan?

Tapi, kamu malah mundur dan menjadi takut pada saya.
Begitu kamu kembali, kamu memukul saya balik dengan membuat rumusan yang tak adil tentang saya.

Ya, saya memang pernah menceritakan tentang masa lalu saya.
Apa saya lupa bilang kalau itu masa lalu?

Saya pernah anggap gambar diri saya rusak. Itu dulu.
Saya pernah membenci orang-orang. Itu dulu.
Saya pernah menyakiti orang-orang dengan brutal. Itu dulu.
Saya pernah kehilangan kendali. Itu dulu.

Baiklah, saya mengaku. Terkadang saya pikir diri saya yang dulu akan kembali.
Tapi bukankah itu wajar jika kita sedang berada di titik terbawah kita?
Saya tahu diri saya yang dulu sangat mengerikan. Tapi saya sudah belajar.
Saya tidak seperti dulu.

Saya memang bilang, koreksi, memperingatkan kamu kalau MUNGKIN diri saya yang dulu akan kembali.
Manusia tidak bisa memprediksi kan'?
Jadi, saya menceritakan apa yang telah saya lakukan di masa lalu. Tidak semua masa lalu bisa saya ceritakan padamu, tapi kamu pasti tahu bagaimana gambarannya.

Tidakkah kamu tahu ketika saya mulai menceritakan masa lalu saya yang buruk, saya sebenarnya meminta kamu menyukai saya apa adanya, bahkan ketika saya menjadi monster sekalipun.

Tapi kamu bilang tidak menyukai saya yang sekarang.
Dari situ saya tahu kamu tidak mungkin menyukai saya apa adanya.

Dan saya, si wanita bodoh, yang tidak tahu bagaimana menghilangkan rasa cinta dari hatinya.
Yang hatinya sudah pasti pecah berkeping-keping ketika satu-satunya pria yang disukainya malah mengatakan akan membalas perasaannya di masa depan penuh kesempurnaan fana.

Saya, si wanita bodoh, yang bahkan mengatakan semua hatinya pada si pria yang disukainya bahwa dia menyukai pria itu apa adanya. Di masa buruk ataupun baik.
Saya, si wanita bodoh, yang hanya diam seribu bahasa, masih memiliki cinta pada pria yang kemudian malah berkata, "Kasihan" setelah mengatakan betapa berartinya dia di hatinya.

Saya, wanita bodoh, yang hanya bisa berdoa pada Sang Khalik agar tidak jatuh cinta lagi.

Jumat, 23 Juli 2010

Hai, Aku Alien ber-ion Negatif




Zaman dahulu kala ada sebuah pesawat asing yang datang dari luar angkasa di bumi. Aku takjub ketika melihat sesosok makhluk menyilaukan yang keluar dari sana. Putih seperti salju, rupawan dan sangat menyenangkan berada di sisinya. Aku sering menghabiskan waktu bersamanya nyaris setiap hari. Saat matahari mulai terbenam dan burung-burung hantu membuka matanya, itulah waktu di mana aku masuk ke dalam gua persembunyiannya dan menyapanya dengan ucapan konyol.


"Dodol!"

Begitulah aku memanggilnya.

"Dodol!"

Begitulah juga dia memanggilku.


Pada mulanya aku dan dia selalu mengadu mulut, melemparkan kata-kata mengejek tanpa ampun demi mencoreng muka satu sama lain. Dan tak ada tanda-tanda salah seorangpun yang mau mengalah sampai akhirnya aku merasakan sakit. Tapi sayangnya, aku tidak tahu kenapa dan bagian tubuh manakah yang membuatku sakit. Saat dia tidak menghiraukanku, aku sakit. Saat dia berada di dekatku dan tidak menyapaku, aku sakit. Saat dia membuka topengku dan mengkritik keburukan karakterku yang sesungguhnya, aku sakit. Saat dia meremehkan kemampuanku, aku sakit. Bahkan saat dia mengejekku dengan kata-kata yang biasa kita lakukan pun aku merasa sakit.


Dia bilang aku berubah.

Dia bilang aku tidak menyenangkan lagi.

Dia bilang aku seharusnya kembali menjadi diriku yang dulu.


Lalu, kukatakan tentang rasa sakitku padanya. Aku selalu merasa kesakitan karena dia. Dia kebingungan. Kenapa malah dia yang membuatku sakit? Bukankah masih banyak hal di sekitarku yang bisa menjadi alasannya? Bukankah banyak orang yang telah melakukan hal serupa dengannya? Kenapa hanya dia yang membuatku sakit? Dari situ aku mulai tersadar. Alasanku kesakitan adalah karena dia adalah dia. Tak ada alasan lain. Aku mungkin tidak merasakan sakit jika orang lain yang melakukannya. Mereka tidak menghiraukanku, tidak mendengarkan aku, menghinaku dan mengkritikku dengan tajam, aku tidak akan merasa kesakitan.


Hanya dia.


Sejak itu dia merubah sikapnya. Tak ada lagi nada-nada mengejek dari mulutnya. Tak ada lagi senyum jahil yang terukir di wajahnya. Tak ada lagi lelucon sinis tentangku. Dan aku kesepian. Tidak tahu bagaimana cara mengembalikannya. Namun, aku berusaha memperlihatkannya bahwa itu tidak mempengaruhiku. Aku tertawa walau telah kehilangan topengku. Kubuka semua kartu-kartu yang kusimpan di balik bajuku. Kuberikan semua isi hatiku yang tak pernah kukatakan pada orang lain. Dia pun menyambutnya dengan melakukan hal yang sama. Sungguhpun itu suatu kehormatan bagiku dan aku merasa berharga baginya.

Seolah menjelma nyaris serupa dengannya, pecahan diri dia yang dipercayakan padaku malah berakar pada jiwaku dan aku secara bertahap berubah menjadi dirinya, seorang alien.


Jujur, aku bahagia.

Tahukah dia?


Beberapa waktu berlalu, dia mengenalkanku pada makhluk-makhluk dari planet asalnya. Makhluk yang serupa dengan kami. Alien. Namun, aku mengenali atmosfir aneh di antara kami, terutama saat salah seorang gadis kaumnya ada di dekatnya. Nada-nada mengejek yang akrab, senyuman jahil yang dilontarkan, lelucon-lelucon yang tak lucu sama sekali. Rasa sakitku kian menggila melihatnya hingga akhirnya mulai mengikis akal sehatku. Aku mengambil peran antagonis. Bersikap defensif memusuhi di belakang mereka, menyebarkan benih-benih kepahitan dan ujungnya malah aku merasakan sakit yang lebih besar dari sebelumnya.


Kuputuskan aku menyerah dan berlari sejauh mungkin tanpa jejak. Butuh waktu yang sangat lama untuk memulihkan diri hingga aku bertemu makhluk lain yang mengingatkanku pada Sang Alien. Tapi, dia bukan alien yang datang dari luar angkasa. Dia adalah makhluk yang berasal dari pedalaman bumi tropis yang eksotis. Senyumannya sempurna dengan warna kulit nyaris ebony.


Aku lagi-lagi merasa sakit yang sama.


Dengan pola yang hampir sama pula. Nada-nada sinis yang memudar berubah menjadi sikap yang sangat berhati-hati. Tapi, kini giliran dia yang memanggilku 'Alien'.


Ya, baiklah aku mengaku. Aku memang berasal dari galaksi lain yang jaraknya triliunan juta tahun cahaya dari Bumi. Makananku adalah kabut di pagi hari dan berbicara dengan bahasa kalbu.


Nah, setelah aku mengaku, masihkah kau marah padaku, hai makhluk berkulit eksotis?

Selasa, 20 Juli 2010

Yang Aku Butuhkan




Aku tak butuh kata-kata simpati.

Aku tak butuh pandangan mata mengasihani alih-alih merendahkan.

Aku tak butuh harapan kosong yang diucapkan para penjilat.


Aku tak butuh orang yang peduli padaku hanya karena ingin mempertahankan titel 'orang baik'-nya.

Aku tak butuh kerumunan orang-orang yang mengobral ayat-ayat kitab suci di telingaku.

Aku tak butuh orang yang mengorek-ngorek kehidupan pribadiku hanya untuk menjadi pusat informasi media belaka.


Aku tak butuh.


Namun, aku menghargai sebuah senyuman tulus yang hangat karena berusaha menyemangatiku.

Aku menghargai kata-kata sederhana meski hanya satu-dua patah sekalipun.

Aku menghargai sebuah sentuhan tangan di pundakku alih-alih menarik kepalaku yang lelah ke pundaknya untuk menjadi tempatku menangis.

Aku menghargai kesunyian tanpa kata-kata tak berarti, yang dapat melihat ke kedalaman bingkai mataku dan mengerti bahasa kalbu yang menggambarkan betapa hancurnya hatiku.

Aku menghargai sebuah pelukan dari orang-orang tersayangku, yang tanpa kuterjemahkan dalam kata-kata, mengerti akan keadaan jiwaku.

Aku menghargai sebuah belaian lembut di kepalaku, sambil menghembuskan kata-kata lembut di telingaku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Bahwa aku tidak sendiri.

Bahwa aku memiliki mereka di sampingku.

Dan betapa aku merindukan momen itu.


Momen khayalanku.

Jumat, 09 Juli 2010

Help! I'm NOT Myself



I miss the person I was.
I hate the person I am becoming.
I feel like I am suffocating.

Is it being here?
Is it this place?
Is it this time?

My life is going to end before it ever really started and I’ll still be waiting for tomorrow to come.
My whole fucking life I have been waiting for things to get better.
My whole life I have been waiting for the future.
There is no fucking future.

I can’t breathe.

I used to be something, somebody.
I used to stand for something.
I am a void now, an empty space.
Wasted space.
What is my fucking life.

[taken from loveyourchaos@tumblr.com]



That is me BANGET!! Gw yang sekarang bukan gw yang sebenarnya. Gw ngga kenal orang yang gw lihat tiap hari di kaca. Gw nggak ngerti apa yang dia mau. Apa yang mau dia lakukan. Dan rasanya gw kek boneka kaca wkwkwkwk. Maksudnya, kecantikanku udah mirip boneka fufufu~ *dimuntahin orang sekampung*