Jumat, 12 Maret 2010

I need Support





Masih tentang cowok yang gw sukain ituh hihihi. Bisa dibilang udah lumayan banyak peristiwa yang terjadi setelah beberapa bulan gw jatuh cinta ama orang itu. Pengen banget gw bagi semuanya di sini, tapi gw belum yakin kalau itu akan membawa hal yang baik atau buruk buat gw, Masalahnya: 1. Gw mulai curiga ‘orang itu’ tahu keberadaan blog gw. Kalau orang itu baca tulisan ini pastinya dia akan langsung tahu siapa yang gw bicarain di sini. 2. Orang-orang RW (real world) sudah banyak yang tahu blog ini. Gw ngga mau meresikokan diri menjadi bahan tertawaan orang-orang di sekitar gw.

Tapi ada hal yang pengen gw ceritain soal hidup gw yang sekarang. Ini tentang komunitas choirs yang gw ikutin di gereja. Awalnya gw sukacita terlibat dalam kegiatan ini. Gw bernyanyi tanpa beban karena yang gw lakuin semata hanyalah buat Tuhan. Seiring waktu berjalan, gw mulai memperhatikan beberapa kebusukan yang nampaknya sudah tak dapat ditolong lagi. Pertama, Ketua tim yang tidak bisa menjaga sikap dan perkataannya. If you ask me, gw akan bilang Ketua Tim kami itu orang yang kekanak-kanakkan karena ia tidak tahu bahwa pentingnya peranan seorang Pemimpin untuk memotivasi anggotanya dan membimbing kami menjadi lebih baik. Tapi yang terjadi, si Ketua menginjak-injak mental kami dan menunjukkan bahwa betapa pecundangnya masing-masing dari kami.

Hey, menyanyi itu tidak gampang untuk orang awam. Gw pribadi jadi merasa tertekan dan akhirnya tidak bisa menyanyi dengan baik karena sikapnya itu. Dan yang paling gw benci adalah betapa lancangnya dia menghakimi seseorang dengan asumsi tidak bertanggung-jawab yang kemudian dia tumpahkan di tengah-tengah semua anggota choir hingga menimbulkan persepsi yang sepenuhnya salah tentang si korban tertuduh. Lebih lucunya lagi, ketika Ketua Tim diminta pertanggung-jawaban dengan sikapnya itu, dia dengan senyum salah tingkah akan menjawab, ”Oh, itu kan Cuma bercanda.”

Yeah, talk that to my butt. Bercanda kok pake diomongin segala di tengah-tengah pertemuan anggota?

And the most ridiculous thing of all that Our Leader is always craving for attention. Dia selalu mencari cara untuk menjadi center of attention, terutama kalau sekelompok lawan jenis ada di sekitarnya. Dia biasanya akan marah kalau diinterupsi dalam proses pdkt nya pada makhluk yang (malangnya) sudah di-tag ama dia.

Okay. Let’s put that aside. Kebusukan lain di komunitas ini adalah dua topeng beberapa anggotanya yang benar-benar memuakkan. Mereka bisa dengan lihainya memakai wajah superrrrr baik nan ramah dan juga berkata-kata manis penuh madu yang menyanjung kita, tapi di belakang mereka akan berubah 180 derajat, menjelek-jelekkan si korban tertuduh dan menertawainya habis-habisan. Gw pernah mengutarakan langsung tentang hal ini, tapi yang gw dapat malah gw dicap ‘anak-anak’ oleh mereka. Gw tahu mungkin kondisi emosi gw yang lagi hancur-hancuran mendorong gw menjadi orang yang lebih sensitif dan gampang marah, tapi yang gw bilang itu kenyataan. Siapapun tidak suka kalau diperlakukan seperti itu. Sungguh gw ngga abis pikir kenapa mereka malah menyangkal kalau mereka memang melakukannya. Munafik? Yeah, tidak ada maling yang mengaku dirinya maling, bukan?

Gw mengungkapkan poin-poin kebusukan choir di atas bukan karena gw anak kecil yang karena sikap tidak dewasanya menjelek-jelekkan orang lain untuk membuktikan bahwa gw lah yang paling benar. Bukan itu tujuan gw. Gw tahu kok yang namanya terlibat dalam kelompok sosial, atau masyarakat dalam konteks lebih besarnya, masalah gesekan seperti ini sudah pasti akan selalu terjadi. Lebih parah lagi di dunia kerja yang terkadang tidak mengenal nilai moral sekalipun, apalagi ke-Tuhan-an. Gw tahu banget soal itu.

Alasan gw mengungkapkan hal di atas adalah karena gw butuh orang-orang yang mendukung gw. Gw tahu gw mungkin salah karena gw bukan orang yang sempurna, tapi ada satu yang gw yakinin bahwa gw nggak sepenuhnya salah karena semua pendapat gw didasarkan kejadian faktual yang gw dengar dan alami sendiri, bukannya gw dengar dari si A atau B dan kemudian membuatnya besar. Dan mungkin gw terkesan anak kecil karena menganggap hal kecil ini menjadi sesuatu yang besar, tapi yang gw tahu adalah gw telah dihakimi oleh sebagian besar orang hanya karena tuduhan yang tidak bertanggung-jawab yang belum sempat diklarifikasi oleh penuduh dan gw ngga suka itu.

The thing is I can’t have any other judgement anymore. Gw udah cukup dihakimi dengan begitu brutalnya di keluargaku, di kampus, lingkungan, dan komunitas yang lain. Jauh-jauh lebih parah. Seratus kali lipat lebih brutal dari situasi di atas mungkin. Dan choir yang seharusnya menjadi oasis hidup gw, tempat gw merasa lebih baik dengan setitik embun rasa nyaman malah melakukan hal serupa seperti tempat-tempat lainnya?! Of course It’s a big thing for me. I feel so dissapointed, sad, angry. Why can’t I have one place that make me feel good of myself? Just one place, please. One place that make me feel accepted just the way I am. One place that I can be myself.

Di mulut gw bilang gw memang memaafkan mereka. Di mulut, gw masih menebar senyuman ramah, tapi sebenarnya gw ngga bisa lagi seperti dulu. Gw merasa memakai topeng kalau ada di sekitar mereka. Begitupun juga sikap mereka terhadap gw terasa sama palsunya seperti payudara Pamela Anderson.

I hate for being fake and faked.

Yang paling menyedihkan adalah, gw masih dihakimi di belakang, tapi dengan sangat rahasia dan juga tertutup. Hanya orang-orang ekslusif yang tahu tentang penghakiman rahasia ini dan mereka benar-benar menjaga agar gw sama sekali tidak tahu dan merasakannya. Dan sayangnya, gw masih seperti yang dulu, hanya bisa diam melihat keadaan, tidak berani mengeluarkan semua isi hati gw sepenuhnya, menjadi pengecut yang menyedihkan. And the real reason I write all of those things coz’ I want a support to be brave. I need that so I can tell what’s really going on in my heart and head.

Ketika gw mengemukakan beberapa ‘kebusukan’ choir langsung di tengah-tengah forum pertemuan anggota, mereka malah memutarbalikkan fakta dan menyangkalnya. Bodohnya, gw malah mengikuti permainan mereka, padahal di kepala gw sudah tersusun kalimat-kalimat yang membuat mereka tertusuk tombak sebesar tiang listrik dan menangis tersedu-sedu. But I told myself, I don’t wanna hurt people, instead I got hurt severely inside coz I didn’t tell the real fact to them. Dan gw butuh dukungan kalian, gw ngga mau merasa seperti ini lagi. Gw nggak mau merasa menjadi pecundang lagi.

Gw nggak ngerti kenapa gw selalu susah mengutarakan perasaanku sendiri dengan kata-kata yang tepat. But I know, I can always think all words that I wanna get them back. The problem is I can’t let it out from my head. Maybe I’m not brave enough. Please, I need a support.



4 komentar:

Tuliskan kesan dan pesan anda. I only receive spam from friends only, please. Thank you.