Kamis, 11 Juni 2009

IH (Indonesian Hogwarts)

Indonesian Hogwarts. Gak nyangka, aku nulis juga tentang beginian. Di tempat ini, aku belajar banyak dan mengembangkan bakatku tentang dunia tulisan. Aku tahu tentang penyusunan kata yang baik dan pendalaman karakter yang kuat. Aku merasa seperti artis yang menjalani perannya dengan baik di sebuah drama teater. Biasanya aku menutup mata dulu, merasakan lingkungan chara-chara yang aku punya sebelum reply di sana. Aku punya dua chara original, yaitu Freya yang nakal, dan Latimer yang jahat. Di awal-awal penciptaan karakter, aku sungguh-sungguh menikmati peranku. Walau aku punya segudang masalah yang buat down sampai senyum saja susah, tapi kenakalan Freya selalu buat aku ketawa-ketawa sendiri. Belum lagi suasana hati Latimer yang selalu ingin membunuh orang-orang, membuatku puas sambil membayangkan aku membunuh musuhku. Xixixi.

Tapi, lama-kelamaan—mungkin karena sudah sifatku untuk tidak pernah menyelesaikan apa yang kumulai, aku bosan, lelah juga dan yang terutama jadi merasa terbebani. Perasaan seperti ini juga mau gak mau mempengaruhi kualitas reply-ku dan aku jadi benci melihat postku sendiri. Akhirnya, aku memutuskan untuk me-reply jika aku mau dan lebih baik tidak usah reply kalau tidak mau. Begitu lebih baik, menurutku. Jadi, aku me-reply ketika aku butuh melampiaskan rasa stresku dan ini ternyata malah memicu kekacauan demi kekacauan yang berujung decak sebal dari orang lain. Hal ini aku rasakan beberapa hari belakangan. Aku perhatikan ternyata ada orang yang ‘take it too personal’ di dalam postinganku dan mereka benar-benar membantaiku habis-habisan begitu ada kesempatan. Apa semua ini karena mereka tidak mengerti alasan kenapa aku mau me-reply di IH sebenarnya?

Aku pernah menawarkan beberapa teman penulis novel untuk ikut serta dalam IH. Aku ingin sekali melihat bagaimana kepiawaian mereka ber-rpg dan bereaksi pada orang-orang yang berinteraksi dengan mereka. Dan karena mereka punya basic menulis yang kuat (ya iyalah, mereka udah nulis novel sendiri), tentunya tulisan mereka berkualitas tinggi dan aku mungkin diam-diam bisa mencuri ilmu mereka. Tapi, ternyata mereka semua bilang serentak TIDAK MAU. Alasannya kurang lebih sama. Mereka punya kerjaan yang lebih penting, katanya. Aku jelas merasa tersinggung. Jadi, aku selama ini malah mengerjakan hal yang tidak penting, eh? Aku butuh IH, woi. Ada satu orang yang akhirnya terang-terangan menyindirku soal keaktifanku di IH.

“Heh, lo nulis beratus-ratus paragraf di sana buat apaan? Mending lo tulis novel aja kalo gitu. Dari jaman kapan lo bilang mo buat novel, tapi ga jadi-jadi.”

Wuooo, itu bukan apa-apa dibanding serentetan kata tambahan dari mulut cabenya yang benar-benar menohok hingga aku memutuskan untuk pertama kalinya lepas dari IH (kata-katanya tidak bisa aku tuliskan di sini. Karena…well…it’s too private). Lalu, dia banding-bandingkan aku dengan teman-temanku yang lain, yang sudah punya buku sendiri, yang sudah selesai menyelesaikan karya walau tidak diterima oleh redaksi, yang mendapatkan penghargaan karya ilmiah….macam-macam deh. Tapi, beberapa minggu kemudian, aku balik lagi ke IH. Hahahaha. Udah dibilangin, aku butuh IH hehe. Temanku yang tahu, akhirnya sampai bosan mencaci-maki aku. Dia bilang aku tukang mimpi, tukang pengkhayal. Karena aku tidak berani menghadapi kenyataan, makanya aku membutuhkan IH. Begitu katanya.

“Oh. Mau jadi Harry Potret ya? Bawa-bawa tongkat sihir gitu?”

Ada lagi yang bilang gitu juga.

Tapi, aku reply di IH bukan karena aku terpana dengan dunia sihir dan segala isinya. Aku hanya butuh pengalih perhatian dari hari-hariku yang jemu. Aku terlalu banyak memiliki masalah yang mereka tidak tahu, jadi mereka bisa berkata seperti itu sesuka mereka. Tapi, mereka tidak tahu alasan aku sebenarnya terjun di IH. Aku di IH bukan untuk memperoleh poin dengan masuk-masuk ke kelas. Aku di IH bukan karena aku menyukai tongkat sihir, bermimpi aku bisa mengubah dunia dengan mantra. Bukan.

Aku punya masalah psikologis berat.

Memangnya aku tidak boleh berpura-pura menjadi orang lain, melupakan kehidupanku yang menyedihkan dan menciptakan kisah lain yang lebih bagus dari kisahku sendiri?

Tapi, mereka tidak tahu apa-apa dan aku tak sudi memberitahu mereka.

Jadi, aku nggak bisa menyalahkan mereka karena ketidaktahuan mereka.

IH yang sekarang juga mengalami banyak perubahan. Memang jadi bagus sekali jadinya. Tapi....Bilanglah aku anggota orde baru yang tidak menyukai reformasi--perubahan baru, aku merindukan IH yang dulu. Saat itu masih ada Mince, teman begadangku dan rentetan cf tidak jelas anak IH yang kerjanya hanya tertawa dan tertawa. Tapi, sekarang cf yang diadakan malah selalu mempertanyakan protokol yang ada, ini cf apa? Untuk apa? Mau ngomong apa? Ya benar, anggota sudah bertambah, jadi semua cf harus diatur sistematis atau inti pembicaraannya tidak akan selesai-selesai. Dan dulu yang namanya jiwa patriot belum kentara jelas, jadi aku benar-benar merasakan tidak adanya pemaksaan atau pecutan-pecutan yang mendorong kemahsyuran asrama. Aku sendiri bingung. Toh beberapa member punya banyak chara di hampir semua asrama, lalu untuk apa hal-hal seperti itu? Bukankah sama saja kalau itu artinya asrama mereka yang memenangkan piala? Salah satu kemisteriusan ilahi. Halah.

Tapi, malam ini aku merenung dan memang sudah saatnya aku menghadapi dunia nyata dengan kekuatanku sendiri. Satu term ini selesai, dan aku lepas dari IH sepenuhnya. Siapa bilang ini nggak berat? Aku akan selalu butuh Freya Lenneth Randgrith dengan segala keceriaan dan kegilaannya yang mencerahkan hari-hariku yang suram saat aku tak bisa tersenyum. Dan juga Ralph Keane Latimer yang menghisap semua perasaan dendam, marah, lara dan juga meredam sifat psikopatisku yang tersembunyi rapih di dalam diriku. Sigh, oke...aku butuh psikolog sekarang...*teriak manggil bebek, psikolog pribadi*.

Indonesian Hogwarts, terima kasih untuk semuanya. Maafkan aku karena segala kekhilafanku yang selalu memenangkan diriku sendiri. Aku menyesal tidak pernah memberi kontribusi apa-apa, tapi suatu hari aku tahu aku akan bangga menjadi salah satu dari kalian. Untuk catatan, aku selama ini tak pernah meminta untuk disegani, diperhatikan, dan dipedulikan oleh kalian. Aku hanya ingin bicara, mengeluarkan isi otakku yang sumpek. Itu saja. Tapi, kalaupun itu juga salah, aku meminta maaf sebesar-besarnya karena telah membuat kalian merasa tidak nyaman. Aku harap kalian tidak akan melupakan aku, dan hubungan kita masih terjalin baik meski aku bukan IH-ers lagi.

Kini...saatnya berjalan lurus ke depan.

Banyak tugas yang menantiku dan di situlah aku akan menuai masa depan.

3 komentar:

  1. Inez jelek! Beraninya kau membuatku menangis, eh? Hiks!

    Maaf, jika IH gak bisa lagi memenuhi standard para member dengan definisi game yang menyenangkan. Tapi seperti yang ente bilang, IH adalah sebuah keluarga besar. Sebuah keluarga yang memaafkan jika ada kekhilafan. Dan keluarga tentu akan menyambut dengan tangan terbuka ketika ada keluarga lain yang ingin pulang dari perantauan.

    Anggap saja begitu. Walaupun, di perantauan tapi masih bisa terus berkomunikasi, kan? Bukannya ngilang babar blas tanpa pesan dan berita.

    *higs Inez*
    *we love you*

    BalasHapus
  2. Sha, gw menangis gara2 elo. Selama ini gw ga dimenegerti oleh dunia RW-ku. Mereka bilang IH begini-begitu. Tapi, kau mengerti. Ya, dari dulu aku merasa IH keluargaku. Aku rindu Mince dan Nyuss yang support aku, dan juga Lian yang aku tahu masih men-support aku sampai sekarang.

    Makasih sha atas pengertianmu. Aku tidak mau melupakan IH seumur hidup. Aku bangga menjadi IH-ers sampai kapanpun. Hiks

    BalasHapus

Tuliskan kesan dan pesan anda. I only receive spam from friends only, please. Thank you.