Sabtu, 12 September 2009

Konser Luar Biasa!

Uh yeah, bilang aja gw norak hehe. Tapi, ini kali pertama gw sepanggung sama pemain orkestra komplit bok. So much fun and flirting hehe.

Acara ini sudah direncanakan jauh-jauh hari, sekitar 3-4 bulan lalu. Kami pun sudah matang-matang mempersiapkannya dengan latihan sebulan full, antara 2-6 jam setiap hari. Dan CUMA gw yang bandel, latihan hanya 3 hari, karena gw ada di Jakarta lama benjet. Kebayang dong bagaimana paniknya Ketua suku tim kami karena satu anggota ngabur. O iya, lupa ngomong. Btw, gw tergabung tim choir di suara Alto. Awalnya gw jadi suara sopran, tapi kata salah seorang senior, suara gw terlalu besar. Hmm....gw sempet mikir—apa itu cara dia untuk ngomong kalo suara gw terdengar sumbang di sopran, lantaran ga bisa nyampe nada tinggi?

Beneran deh kagak bohong, gw bisa banget nyampe nada tinggi. Masalahnya kalo udah nyanyi, gw kadang lupa teknik. Ah payah banget. Padahal kalo ngga pake teknik, belum ada 4 lagu, suara pasti langsung habis dan hasilnya sangat sumbang. Back to topic. Begitu nyampe ke Jogja, langsung deh gw dibombardir 8 lagu baru yang sulit. Gw kelimpungan nyanyinya. Baru satu kali gw latihan, tauknya tim choir langsung latihan bareng sama semua tim acara yang terdiri dari orchestra, dancer, body voice, teater.

Nyahaha, gw ngga mau bayangin dah gimana ancurnya suara gw.

Tapi, something happen in there. Orchestranya kereeeeen. Dahsyat tak terkira. Gw bengong sejenak dan berpikir, ‘oh, gini toh rasanya kalo terlibat dengan orchestra’. Maklum, gw tuh fanatik berat soal musik klasik. Beethoven, Schubert, Mozart, Handal, gw suka banget denger karya mereka. Ditambah lagi semua film, dorama Jepang yang berhubungan dunia orchestra, contohnya Nodame Cantabile. Setiap gw lihat tongkat konduktor terangkat, gw pasti langsung teringat tokoh Chiaki yang berubah menjadi Setan setiap menemukan kesalahan para pemainnya. Konduktor di tempat kita untungnya tidak seperti itu. Bapak ini soalnya juga menjabat sebagai seluruh departemen musik. Otomatis tim choir bertanggung jawab sama bapak tersebut. Kalau bapak ini galaknya sama kayak Chiaki, bisa habis kita semua.

Lucunya pas di bagian Bapak inisial O ini memberi sinyal pada tim choir untuk mulai bernyanyi. Kira-kira begini permasalahannya. Semua lagu tentunya akan diawali musik instrumen terlebih dahulu (entah dari orchestra, gitar, drum, dan keyboard), dan inilah yang menjadi tugas Konduktor untuk memberi sinyal pada masing-masing pemain musik, kapan mereka memulai aksinya. Tapi ketika Konduktor memberi sinyal pada tim choir, semuanya malah sunyi senyap. Soalnya anggota choir buta not balok, apalagi kalo dikaitkan dengan gerakan tangan Konduktor yang di birama ke sekian, dengan gerakan tangan seperti apa kita harus mulai bernyanyi. Kita semua bukannya nyanyi seperti yang diminta Konduktor, tapi malah diam bengong.

Wah lucu banget deh. Udah gitu suara kami fals banget. Benar-benar beruntung, kami mempunyai pemimpin seperti beliau yang sabarnya panjang banget, dia ngga pernah marah loh. Gw nggak kebayang deh. Bapak ini urusannya banyak. Ngatur satu tim orchestra aja mumet banget, apalagi kalau buat aransemen lagu baru, dan ngatur tim pemain musik yang lain. Ketua suku kami aja bilang kalau bapak itu stres berat dan mewajibkan kita bernyanyi bagus agar bebannya berkurang satu.

And, gw ngga pernah liat bapak itu marah.

Hebat!

Kecuali, sama drummernya. Orang-orang senior sih pada bilang kalo si drummer emang pantas mendapatkannya, tapi gw nggak ngerti apa maksudnya. FYI, drummernya itu cewek loh. Jarang-jarang kan ada drummer cewek? Gw aja kagum kok, sekaligus bangga ada cewek yang bisa gebuk drum.

Gw pernah kenal juga sih sama drummer cewek yang lain. Duh gw lupa awal dia bermain drum itu bagaimana. Kalo nggak salah sih karena dia ingin masuk dalam tim musik dan secara kebetulan, di rumahnya ada satu set drum nganggur milik kakaknya. Si cewek blasteran Jerman itu pun memulai kariernya sebagai drummer dan hasilnya lumayan, dia pernah manggung di beberapa tempat (yang gw lupa--di mana aja tempat manggungnya. Kalo ga salah sempet manggung bareng band lokal ternama, tapi gw takut salah info ah). Sayangnya, permainan cewek cantik ini diremehin banyak orang, entah itu orang luar yang nggak dikenal, atau sama anggota bandnya sendiri. Dia sakit hati habis-habisan sampe trauma main drum lagi. Sekarang gw ngga tahu lagi deh kabarnya gimana. Yang gw tahu, dia menjadi singer yang baik di gereja.


Gw sempet mikir tentang drummer cewek di tempat kita, ’Apa permainan dia juga diremehin sama orang-orang?’ Tapi para seniorku malah membantah, katanya si drummer pantas mendapatkan cacian, omelan karena sifatnya—dengan tambahan, senior2 berkaitan akan menjaga hati untuk tidak melakukannya. Gw pengen tanya lebih jelas lagi, sifat seperti apa sih? Tapi, gw diam saja lah, daripada malah nge-gosip hehehe.

Bener deh. Ga tahu napa. Setiap orchestra memulai aksinya, bulu kuduk gw merinding, terutama di suara biolanya. Well, gw akui gw emang orang awam soal musik. Asal lihat orang bermain alat musik dan terdengar bagus di kuping gw, gw pasti akan bilang orang itu bagus permainannya. Namun, ukuran ’bagus’ ahli musik itu jauh berbeda dengan ukuran gw.

Gw penasaran apa kata orang ahli musik tentang pemain orchestra tim Hillarious. Gw pernah lihat satu-dua orang pemain biola memainkan gubahan yang dikenal kuping gw (antara Beethoven, Mozart gituh deh) pada saat break latihan, jari-jari mereka yang memegang senar bergerak cepat sekali, dan suaranya udah tentu baguuuuus. I’m proud being a part of this big thing.

Teng-teng. Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Gw harus bangun jam 4 pagi dan berangkat jam setengah tujuh menuju Solo. Begitu datang, kami langsung makan siang, lalu memilih sisi panggung di mana tim choir akan berdiri. Kemudian, kami cewek-cewek choir dipanggil tim make-up untuk didandani, yang nyatanya malah bengong-bengong di tempat karena tim make-up sedang sibuk mendandani tim dancer yang membutuhkan dandanan dan kostum yang lebih WAH. Kami pun memutuskan untuk memberi polesan dasar make-up sendiri, yaitu foundation tebal putih sampai ke bibir dan bubuhan bedak tabur, padat.

BAHKAKAKA kami kelihatan seperti hantu. Sebalnya sewaktu kami dalam muka yang seperti itu, malah disuruh datang ke panggung untuk gladiresik bersama tim orchestra. Beberapa teman gw teriak histeris, nggak mau keluar. Tapi apa boleh buat, itu adalah titah dari para petinggi. Kita semua akhirnya melenggang, melewati tim orchestra yang ketawa-ketiwi melihat penampilan muka hantu kami semua. Grrrr, sebal banget. Panggung tim pun dirubah. Kami disuruh berdiri di sisi panggung paling dalam—yang notabene, panasnya luar biasa karena di belakang dan di atas kami terdapat lampu-lampu besar warna-warni. Kami juga harus ekstra hati-hati ketika bergerak karena tepat sejengkal, merupakan pinggir panggung. FYI, tinggi panggung antara 3-4 meter. Kalau jatuh kan’ lumayan bonyok.

Parah banget dah. Kami semua gladiresik 3 jam tanpa persiapan sama sekali. Kita nggak punya air dan sesuatu untuk dijadikan kipas. Tiga jam nyanyi tanpa air mah mampus kale. Wuoh, kita langsung susun rencana deh untuk nyusupin minum dan kipas ke panggung sebelum konser dimulai.

Dan emang sih, semuanya sepadan. Ya latihannya, ya keringatnya, make-up, dan kerja keras semua tim beserta para pemimpin kita. Konser berjalan sukses, padahal jantung gw dag-dig-deg, takut si drummer buat kesalahan lagi kek di dalam latihan dan gladiresik. Nyatanya, semua sangat lancar, walau suara gw (yang lagi-lagi jadi kendala) sumbang sangat. Entah ya, rasanya kalau di atas panggung, kekuatan suara yang biasa gw pake di saat latihan nggak pernah bisa kedengeran sama sekali. Gw harus pacu suara sekencang-kencangnya, sampe gw lupa pake teknik nyanyi.

Ah payah.

Tapi ada lucunya juga, karena anak choir yang lain ada yang terlalu semangat nyanyi sampe kelebihan satu baris nyanyinya, atau suara-suara aneh lainnya yang buat kami mati-matian menahan tawa ketika mulut sedang bernyanyi di saat bersamaan.

Di atas semua itu, sehari setelah konser berlangsung. Atau di siang hari sebelum gw menulis tulisan ini, Konduktor kami yang merupakan ketua seluruh departemen memuji-muji tim choir.

”Choir, kemarin kalian bagus sekali. Saya baru saja melihat video rekamannya tadi. Sempurna.”

Akhirnya, Ketua suku choir tersenyum penuh puas. Ternyata, ketidaksempurnaan kami telah ditutupi oleh kuasa Tuhan, agar menjadi sempurna. Pujian dari Konduktor teramat sangat berarti bagi kami, setelah kritik demi kritik pedas menelanjangi ketidaksempurnaan kami selama ini.

Usaha keras kami terbayar sudah.

Semua orang tampak sangat luar biasa.

Aku bangga menjadi bagian di dalamnya.

Ditunggu yah, kegiatan luar biasa Hillarious Orchestra and Impacters lainnya. Jangan lupa untuk mengikut-sertakan aku lagi hehehe.

4 komentar:

Tuliskan kesan dan pesan anda. I only receive spam from friends only, please. Thank you.