Jumat, 22 Oktober 2010

Antara Ayah dan Anak

Mungkin aneh atau absurd, tapi saya selalu terharu kalau sudah menyangkut hubungan ayah dan anak. Setiap nonton adegan film yang melibatkan seorang ayah dan anaknya, tolong jangan lihat muka saya. Dijamin, banjir air mata di mana-mana sampai pake hidung meler segala.



Ada dua film yang sangat membekas di kepala saya kalau topik ini diangkat. Pertama, film besutan Hollywood yang berjudul ‘August Rush’. Para pecinta film tingkat akut pasti tahu film ini. Film ini disadur dari novel berjudul sama yang menceritakan tentang seorang anak autis bernama Evan Taylor yang tinggal di panti asuhan. Sedari kecil dia dianggap aneh oleh anak-anak panti yang kemudian mem-bully dia karena keanehannya itu. Apa boleh buat, Evan memang selalu terpesona pada suara bebunyian di sekitarnya hingga membuatnya melupakan dunia nyata. Entah apakah itu suara desir angin yang meniup lahan padi menguning, suara dengung lebah, suara dribble bola, atau apapun itu. Buat dia, semua bebunyian itu adalah musik yang indah.

Siapa yang sangka, anak aneh seperti itu ternyata mewarisi bakat musik dari ibunya yang seorang artis pemain cello terkenal, dan ayahnya yang merupakan vokalis band underground. Evan kabur dari panti asuhan dan memakai nama samaran August Rush ketika mempelajari musik di jalanan dan di Universitas Musik terkemuka, Juilliard. Hebatnya, anak umur 11 tahun sudah bisa men-compose rhapsody sendiri dengan memakai aneka jenis alat musik alternatif, dari penutup tong sampah, gelas, wind chymes sampai instrumen concerto pada umumnya seperti violin, oboe, cello, dsb.

Dan satu adegan yang selalu membekas dari film ini, tentu saja saat Evan bertemu ayah kandungnya di jalanan ketika sedang mengamen. Mereka sama-sama tidak tahu hubungan darah di antara mereka, tapi ayahnya menatap Evan dalam-dalam seolah tersihir, merasakan ikatan yang tidak bisa dijelaskan akal sehat, seolah mengenali Evan adalah bagian dari dirinya yang paling berharga. Di detik itulah, air mata saya jatuh begitu saja. Padahal adegannya tidak begitu istimewa bahkan sangat singkat, hanya dalam itungan detik, tapi mampu membuat saya terkesan..... terharu.... dan menangis.


Film kedua, adalah film lepas produksi negeri Korea yang berjudul ’My Son’. Ceritanya tentang seorang ayah yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup sebelum anak lelakinya lahir ke dunia. 18 tahun kemudian, sang ayah mendapatkan masa bebas penjara dari pemerintah dalam jangka waktu hanya seminggu. Seminggu inilah, ayahnya bermaksud untuk pulang ke rumah untuk bertemu dengan anak satu-satunya dan juga ibunya untuk menghabis waktu bertiga. Istrinya sudah meninggal, sayangnya.

Saya kira lika-liku ceritanya hanya seputar keengganan ayah dan anak lantaran tidak pernah mengenal diri masing-masing karena tidak pernah bertemu satu kali pun, atau tentang sang anak yang sangat membenci dan malu atas kondisi ayahnya yang merupakan tahanan penjara seumur hidup. Tapi, tidak begitu. Sang anak sendiri, walau terlihat segan di depan ayahnya, dia sebenarnya selalu membangga-banggakan ayahnya di depan semua orang hingga teman-temannya malu padanya karena tidak pernah bersyukur diberkati keluarga yang lengkap. Sang ayah pun sangat bangga pada anaknya, yang walau tanpa figur seorang ayah, si anak mampu menjalani tugas sebagai kepala rumah tangga. Ia mencari uang sendiri, membayar sewa apartemen dan tetek-bengek lainnya, bahkan mengurusi neneknya yang sudah pikun dan tidak mampu melakukan apa-apa (saya sendiri dulu punya nenek pikun dan saya tahu betapa sulitnya mengurusi orang tua macam itu.)

Orangtua mana yang tidak bangga punya anak seperti itu?

Yang paling membuat dada saya sesak adalah adegan di akhir film ini. Masa bebas penjara sang Ayah pun akhirnya habis, dan polisi yang mengawasinya memberi tambahan waktu beberapa jam agar sang ayah bisa memberikan salam perpisahan pada anaknya. Mereka berdua lalu berjalan-jalan di sekitar rel kereta api sambil menikmati pemandangan berkabut di sekitarnya. Sesekali diam, sesekali berbicara. Sampai akhirnya sang Ayah menghela nafas dalam-dalam dan kemudian dengan mata berkaca-kaca dia bertanya pada anak lelaki di hadapannya, ”Katakan padaku, di mana anakku? Siapakah kamu?”

Mulanya saya pikir terjemahan subtitle film-nya ngaco, tapi ternyata memang begitu apa adanya. Si ayah menanyakan di mana anaknya, padahal sudah jelas-jelas anak lelaki di depannya itu adalah anaknya. Tapi, akhirnya si pemuda berumur 18 tahun itu buka mulut dan membeberkan semuanya. Anak asli sang ayah itu sudah meninggal dua tahun sebelumnya. Karena kanker darah.

Anak kandung dari sang ayah itu adalah sahabat dekatnya yang sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri. Hampir setiap hari si anak kandung menceritakan ayahnya, kehebatannya, dan betapa ia mencintai ayahnya. Saat si anak kandung meninggal, dia tidak tega memberitahukannya pada sang ayah. Dia dan teman-temannya yang lain pun saling sepakat untuk menggantikan peran si anak kandung. Secara bergantian, mereka mengurusi neneknya yang pikun, memberi makan, membersihkan kotoran si nenek, membersihkan rumah, membayar uang sewa apartemen, dsb, termasuk berpura-pura menjadi anak dari sang ayah.

Dada saya sesak sekali melihat mimik muka sang ayah. Saya pernah mendengar chemistry antara ibu-anak, tapi ternyata chemistry antara ayah-anak itu juga ada. Menurut saya, hubungan seperti ini hanya ada ketika si ayah benar-benar sangat mempedulikan keluarganya.

Seperti papa saya.

Hubungan saya dengan papa memang tidak selamanya bagus. Seperti roller-coaster, selalu naik-turun secara signifikan. Kadang-kadang bisa berubah dengan drastis tanpa sebab yang jelas. Tapi, jauh dari itu semua. Jauh di dalam hati kami masing-masing, kami tahu dan mengenal satu sama lain.

Bahwa kami adalah satu entitas yang sama.
Satu jiwa dengan predikat yang sama pula.

Walau sering kami mengingkari hal itu, tapi di masa saat pikiran kami jernih, kami saling mengakuinya.

”Saya tahu kamu itu sama seperti saya. Jiwamu sama seperti saya.”

Setiap dia bilang kata-kata itu, sebenarnya air mata saya langsung memberontak keluar. Tapi dengan sekuat tenaga, saya menahannya. Mungkin di seluruh dunia ini, selain Bapa saya di surga, hanya dia yang paling mengerti tentang saya. Bukan mami saya. Bukan sahabat saya. Bukan siapapun.

Tapi, dia. Papa saya.

Ini yang membuat saya terharu dan menangis setiap melihat hubungan ayah dan anak.

1 komentar:

Tuliskan kesan dan pesan anda. I only receive spam from friends only, please. Thank you.