Sabtu, 23 Oktober 2010

Goodbye my Almost Lover




Hari itu dia menjemputku di stasiun. Kulit eksotis, kacamata bergagang hitam, helm hijau mengkilat.
Senyumnya melebar saat bertatapan denganku.

“Memangnya ada kriminal pake bilang ‘segera ke tkp’ segala?!”

Dia bicara soal isi smsku.

“Yah biasalah omongan orang keren kan’ memang kek gituh.”

Dia tersenyum. Aku juga.

Kami diam-diam saja di sepanjang perjalanan.
Berbicara entah apa yang kami candakan. Aku tidak ingat.
Sampai aku akhirnya memutuskan untuk bicara soal yang penting.

”Vid, ini mungkin akan jadi pertemuan kita yang terakhir.”

Dia hanya menepuk lututku.

”Baik-baik ya di sana.”

Cuma itu pesannya.

Pertemuan terakhir kami sebelum aku pergi ke kota lain adalah di depan gang tempat kekasihnya berada.
Aku pulang membawa seratus macam perasaan dan aku tahu aku nggak bisa menahannya.
Aku ambil telponku dan kutelpon semua orang yang muncul di pikiranku.

Welly. Tidak diangkat.
Niki. Dia baru pulang kerja dan sedang mandi.
Ell. Tidak diangkat juga.
Dan akhirnya, Hota atau si tuan mata tajam. Dia mengangkatnya.
Hatiku tenang saat dia menjawab telpon. ”Kenapa, nes? Ada apa?”

Dua jam aku tertawa, menangis, kemudian tertawa lagi dan menangis.
Di telpon. Dengan dia. Sahabat saya.

"Hota, why God make me love him from the start if it's just to hurt me?"

"It's God meant to make you wiser and stronger. You shall find true love when time flies. You shall forget him and smile remembering him. For now, just say goodbye to him. Say goodbye from your heart."

"What if I can't and I will still love him?"

"You can if you say you can. You can't if you say you can't. What's your choice?"

"Goodbye, Mr. Exotic-skin. Goodbye to your beautiful smile and your tender, loving warm heart. I will move on and have a fabolous life. Goodbye, my almost lover."

8 komentar:

  1. semua pilihan ada di tangan kita. mau terus ingat dia atau enggak. itu saja. secara ane jg pernah ngalamin kayak gini. bertahun yg lalu.

    BalasHapus
  2. well, kalo itu yg terbaik? relakan saja Frey..

    BalasHapus
  3. Saya pernah ada diposisi itu..

    Semua akan baik2 saja ;)

    BalasHapus
  4. wahhh ini beneran gak sih? atau cuma fiksi?
    kenapa harus berpisah?
    ah sudahlah
    jadi sedih

    BalasHapus
  5. @slamdunk: hiks...saya juga berharap ini bohongan, say. Tapi sayangnya ini cerita sungguhan. Kenapa kita berpisah, eh? Ah panjang ceritanya. Kalo mo dirangkum, saya cuman bisa bilang, ini kehendak Tuhan. Mungkin. Entahlah, saya juga masih belum rela sampai detik ini. Mohon doanya aja

    BalasHapus
  6. Hai,

    Sudah lama aku nggak blogwalking. Karena memang dah lama juga nggak blogging. Hehehehehe.... Datang sekedar menyapa. Semoga dirimu sehat dan selalu bahagia.... dan semoga belum lupa dengan persahabatan kita.

    :)

    Salam,

    Ninneta

    BalasHapus
  7. "You can if you say you can. You can't if you say you can't. What's your choice?"

    i know it's hard, deary... but people will go thru bad relationship. use the experience to make you become better, not bitter.

    you can, and you will go thru tis.
    hrs percaya sm diri sndr ya. :)

    BalasHapus

Tuliskan kesan dan pesan anda. I only receive spam from friends only, please. Thank you.