Rabu, 13 Oktober 2010

What is Love to you, dear?




Pernah, si tuan kulit eksotis bertanya pada saya, “What is love to you?”

Mau tak mau pikiran saya melayang pada beberapa tahun lalu saat hati saya masih tertawan oleh makhluk Alien. Dia juga pernah bertanya hal yang sama. Deja-vu.

“Kamu duluan. What is love to you?” Malah saya yang berbalik bertanya pada si tuan kulit eksotis.

“Buatku, cinta itu adalah darahku.”

Kemudian dia bercerita tentang kisah lamanya. Kisah cinta yang membuat dirinya tersayat-sayat penuh kesakitan, mental dan fisik. Bahwa dia sangat menghargai cinta seperti dia menghargai tiap tetes darah yang mengalir di tubuhnya. Bahwa dia adalah pribadi yang sangat menjunjung tinggi arti cinta di atas segalanya, dan itu juga yang sering membutakan matanya, dan melumpuhkan segala penginderaannya, termasuk akal sehatnya.

Saya tersenyum pahit, masih mengingat makna cinta dari seorang alien.

“Cinta kamu tidak masuk akal, nes. Buat aku, cinta itu tumbuh karena saling mengenal satu sama lain, dan tanpa kita sadari, kita jadi makin membutuhkan satu sama lain.”

Sangat logis pemikirannya. Dia pun berkata demikian karena saya sebelumnya sudah menjelaskan bagaimana perasaan menggila di dada saya padanya bermulai. Dan itu juga yang saya ucapkan pada si tuan kulit eksotis. Kurang lebih sama.

”Buat aku, cinta itu haruslah sebuah chemistry. Sebuah rasa ketertarikan tanpa alasan jelas. Sangat misterius, dan tidak bisa dijelaskan oleh pikiran sehat, tapi sangat nyata. Buat aku, rasa itu harus sudah ada bahkan pada pandangan pertama. Memang sangat perlu untuk mencintai seseorang dengan alasan, tapi buat jenis orang seperti aku yang mudah bosan dengan semua hal, mencintai orang lain dengan alasan sama halnya saya yang suka menggonta-ganti baju begitu saja. Karena begitu alasan itu hilang, saya tidak lagi mencintai orang itu. Perasaan saya langsung hilang semudah saya menyingkirkan debu dari tangan saya. Tapi ketika saya mencintai orang tanpa alasan, walau orang itu berubah sekalipun, sampai akhir hidup saya, saya mungkin akan tetap mencintainya. Selamanya nggak akan berubah, walau sudah sekuat tenaga berusaha untuk menghilangkannya.”

Sebenarnya, saya tidak pernah sejelas di atas ketika mengungkapkan perasaan saya. Seringnya sih mungkin karena saya begitu gugup dan salah tingkah berada di samping si tuan kulit eksotis, maupun si alien. Jadi, mungkin sampai saat ini, mereka tidak mengerti arti perasaan saya.

Tapi, banyak juga teman-teman terdekat saya yang memberi tanggapan soal perasaan yang segila itu.

El, adik saudara jauh, sekaligus sahabat dan soul mata saya, bilang ”Cinta elo nggak nyata, nes. Cuma ada di dunia khayal doang. Gue nggak ngerti dan nggak percaya dalam hal ’cinta’.”

Rosa juga pernah bilang, ”Bener sih kata kamu. Aku juga ngerti banget.” Masalahnya, dia itu sama persis juga kayak saya hahaha. Makanya, dia sangat mengerti soal perasaan saya.

Ada juga yang kemudian sangat mengagumi perasaan saya dan terus menyemangati saya. Ada juga yang sangat kaget seorang saya yang bisa memiliki perasaan seperti itu (karena di pikirannya, image saya itu adalah robot tak punya hati). Dan beberapa orang menyuruh saya berdoa lebih khusyuk, untuk sepenuhnya berserah pada Sang Khalik agar diberikan pencerahan terhadap perasaan saya yang sesungguhnya.

Yep, saya tahu semua orang benar dan tidak ada yang salah.

Saya harap semuanya mendoakan saya, agar bisa diberikan pencerahan dalam waktu singkat.

-SIGH-

6 komentar:

Tuliskan kesan dan pesan anda. I only receive spam from friends only, please. Thank you.