Senin, 20 September 2010

Surat saya pada Anda




Dear God,

Maaf jika yang akan saya katakan nanti malah akan mengkritik Anda. Siapapun pasti akan berkata, siapalah saya manusia yang berani-beraninya mengkritik Anda. Tapi saya mohon untuk mengatakan sesuatu pada Anda.

Saya sadar sebagai manusia, Anda perlu menguji saya dengan mendatangkan begitu banyak rintangan, sakit hati dan masalah. Saya pun sadar dengan begitu banyak hal yang terjadi di hidup saya, Anda bermaksud membentuk saya agar saya menjadi lebih kuat. Saya sadar dan saya terima semua permasalahan yang ada di dalam hidup saya dengan lapang walau seringkali saya merasa Anda tidak adil karena hidup yang saya miliki tidak sama dengan orang lain.

‘Mengapa harus saya yang harus mengalami semua ini?’

Anda tahu saya sering berteriak seperti itu.

Masalah saya tidak biasa, dan itu sudah berlangsung sejak saya kecil. Anda tahu bagaimana saya sering meneteskan air mata, berteriak dalam hati, memohon pada Anda agar rasa sakit di hati saya menghilang. Anda tahu bagaimana saya kemudian mengatasi rasa sakit itu dengan membunuh perasaan saya, membunuh ‘manusia’ di dalam saya. Anda tahu benar bagaimana saya berusaha keras untuk menjadi sebuah robot. Tak punya hati untuk disakiti. Tak punya pikiran untuk berpikir. Tak punya perasaan untuk merasakan sebagaimana manusia pada umumnya.

Anda tahu yang sebenar-benarnya.

Saya pun tahu dengan segala trauma yang Anda izinkan terjadi di masa kecil saya, Anda bermaksud saya berhati-hati dengan orang pilihan hati saya. Saya pun tak mudah memberikan hati pada orang lain. Saya tak mudah menyukai orang lain. Anda tahu itu. Tapi yang saya herankan kini, kenapa Anda tidak membiarkan saya memilih cinta seperti layaknya saya memilih buah di pasar?

Ya, saya menganggap cinta itu sekumpulan senyawa kimia misterius di dalam dada yang membuat saya mencintai seseorang sejak pertama saya melihatnya. Bukan karena penampilan, bukan karena kharisma seseorang, tapi sesuatu di dalam orang itu yang secara misterius membuat jantung saya berdebar-debar tanpa alasan. Mata pun selalu ingin memandangnya terus, terus dan terus entah kenapa. Tak banyak orang yang membuat saya merasa begitu. Seumur hidup saya, hanya dua orang saja.

Orang pertama, saya sebenarnya sudah tahu bagaimana akhir kisah saya dengan dia. Saya begitu terlarut pada dunia khayalan saya yang sangat mendambakan seorang Pangeran sempurna tanpa cacat. Tinggi, tampan, pintar, baik hati dan dia juga sahabat terbaik yang pernah saya miliki. Dia Pria dalam mimpi saya. Mau tak mau hati saya terlarut. Saya pun memuja pria itu membabi buta hingga membuat saya buta sungguhan. Kisah ini sepenuhnya salah saya dan iya, saya terima konsekuensinya.

Yang saya keluhkan pada Anda, Alfa, adalah kisah saya yang kedua. Saya tidak habis pikir, kenapa Anda membiarkan saya memberikan hati pada orang yang tidak saya harapkan? Dia bukan Pria dalam mimpi saya. Dia tidak tinggi, tampan, dan dia bukan sahabat saya. Dia juga terus-menerus menyiksa saya. Pola pikir kami jauh berbeda hingga kami saling terlibat perdebatan tak penting. Saya lelah, Alfa. LELAH. Dan dia pun juga demikian. Saya memohon pada Anda berpuluh kali untuk menghilangkan perasaan yang melelahkan ini pada dia. Tapi Anda tak kunjung juga mengijinkan hal itu.

Salah tidak kalau saya berpikir kalau cinta ini adalah keinginan Anda?

Jadi, saya terus menyimpan perasaan melelahkan ini.

Sebut saja inisial nama A sampai Z, semua orang berkata negatif tentang dia. Semua orang menyuruh saya melupakan orang itu. Saya juga memohon pada Anda, Alfa. Tapi, kenapa Anda tak kunjung mengabulkan permohonan saya? Anda tahu bagaimana perih hati saya melihat kemesraan dia dengan orang lain. Saya lelah bersilat lidah dengannya. Saya tak mau menangis karena dia lagi, Alfa. LELAH. SAYA LELAH.

Apa maksud Anda, Alfa?

APA?

Tolong kasihanilah saya dan hilangkan perasaan melelahkan ini.

4 komentar:

Tuliskan kesan dan pesan anda. I only receive spam from friends only, please. Thank you.