Rabu, 07 Juli 2010

Broken Heart




Tulisan ini terinspirasi oleh kisah sedih Cik Elena yang sedang galau tingkat dewa. Sang 'Adam' miliknya berulah lagi katanya. Gw nggak tahu mau berkomentar apa selain berkata, "Cici menangis saja sepuasnya. Nangis sejadi-jadinya. Keluarin semua kesedihan cici dalam sehari, lalu lupakan dia. Lupakan kalau dia pernah tinggal di hati cici."

Dan wanita berwajah oriental itu hanya membalas perkataan gw seadanya, "Aku capek nangis, nes. Rasanya terlalu pahit sampe-sampe emosi pun nggak bisa keluar."

Jiah. Gw ngerti banget rasanya kayak gituh. Saking sedihnya sampe nangis pun nggak bisa. Mungkin karena rasa sedihnya sudah berlarut-larut sekian lama dan ketika klimaksnya terjadi, air mata pun jadi susah keluar karena sudah saking seringnya menangis. Atau mungkin juga karena sudah terlalu sering merasa sakit, kita berusaha membunuh perasaan manusiawi dan mulai belajar menjelma menjadi manusia robot yang tak berhati MWAHAHAHAHAHAHA *berasa kesurupan roh robot* (emangnya ada ya roh robot?)

Anyway, it is hard to overcome a broken heart. And it will never easy to pull ourself together or even to act normal as before. But, I just wanna make sure one thing that there's always a rainbow coming up right after one hard storm.

So, why pain exists? Kenapa harus ada pengalaman pahit dalam hidup?

It exists so we can appreciate all the good things we have in life. Terkadang jika kita selalu memiliki hal-hal indah dalam hidup secara terus-menerus, kita jadi merasa kalau hal indah tersebut sama wajarnya seperti jumlah air di lautan, sama seperti udara yang kita hirup. Dan karena itu, kita berhenti menghargai hal-hal indah tersebut. Kita berhenti bersyukur pada Sang Khalik. Kita berhenti menjadi manusia seutuhnya, yang diciptakan untuk selalu berusaha mendapatkan hal indah, hal yang membuat manusia merasa bahagia. We could end up stop trying to do anything, or worse...we could end up stop living.

Gw jadi ingat perkataan seorang alien di masa lampau. Dia bilang dia suka mendengarkan penderitaan orang lain karena dengan begitu dia sadar kalau ada orang-orang yang hidupnya lebih malang dari dia, lebih menderita. Dan itu membuat dia bersyukur karena ternyata dia jauh lebih beruntung dibanding mereka. Ekstrim memang orang itu. Namanya juga alien wkwkwkwk. Tapi kalau dipikirkan secara mendalam dia ada benarnya juga. Walau setelah itu ada tanda tanya besar yang muncul: Apakah kita harus mendengarkan penderitaan orang lain untuk membuat kita merasa bersyukur? *ditampar massal*

Pertanyaan tadi tidak usah dipikirkan. Anggap saja itu hanyalah bentuk impact dari efek kedatangan alien di muka bumi hahaha. Tapi inti yang pengen gw omongin adalah kenapa kita nggak belajar menghargai orang-orang yang membenci kita? Mungkin tetangga anda yang kerjanya menggosipkan anda melulu? Siapa tahu dia perhatian pada anda hingga dia tidak tahan untuk berbicara tentang anda melulu. Coba dimulai dengan kata sapaan hangat 'hello' padanya. Lalu, bagaimana dengan atasan anda yang galaknya setengah mati? Teman anda yang selalu marah-marah pada anda? Ayo mulai berpikir positif. Siapa tahu mereka tidak bermaksud secara sengaja memusuhi anda. Mungkin mereka sangat menyayangi anda, tapi tidak tahu bagaimana cara mengekspresikannya?

Yah setidaknya itu yang saya rasakan tentang makhluk berkulit hitam manis yang selalu mengomeli saya fufufu~

7 komentar:

Tuliskan kesan dan pesan anda. I only receive spam from friends only, please. Thank you.