Jumat, 23 Juli 2010

Hai, Aku Alien ber-ion Negatif




Zaman dahulu kala ada sebuah pesawat asing yang datang dari luar angkasa di bumi. Aku takjub ketika melihat sesosok makhluk menyilaukan yang keluar dari sana. Putih seperti salju, rupawan dan sangat menyenangkan berada di sisinya. Aku sering menghabiskan waktu bersamanya nyaris setiap hari. Saat matahari mulai terbenam dan burung-burung hantu membuka matanya, itulah waktu di mana aku masuk ke dalam gua persembunyiannya dan menyapanya dengan ucapan konyol.


"Dodol!"

Begitulah aku memanggilnya.

"Dodol!"

Begitulah juga dia memanggilku.


Pada mulanya aku dan dia selalu mengadu mulut, melemparkan kata-kata mengejek tanpa ampun demi mencoreng muka satu sama lain. Dan tak ada tanda-tanda salah seorangpun yang mau mengalah sampai akhirnya aku merasakan sakit. Tapi sayangnya, aku tidak tahu kenapa dan bagian tubuh manakah yang membuatku sakit. Saat dia tidak menghiraukanku, aku sakit. Saat dia berada di dekatku dan tidak menyapaku, aku sakit. Saat dia membuka topengku dan mengkritik keburukan karakterku yang sesungguhnya, aku sakit. Saat dia meremehkan kemampuanku, aku sakit. Bahkan saat dia mengejekku dengan kata-kata yang biasa kita lakukan pun aku merasa sakit.


Dia bilang aku berubah.

Dia bilang aku tidak menyenangkan lagi.

Dia bilang aku seharusnya kembali menjadi diriku yang dulu.


Lalu, kukatakan tentang rasa sakitku padanya. Aku selalu merasa kesakitan karena dia. Dia kebingungan. Kenapa malah dia yang membuatku sakit? Bukankah masih banyak hal di sekitarku yang bisa menjadi alasannya? Bukankah banyak orang yang telah melakukan hal serupa dengannya? Kenapa hanya dia yang membuatku sakit? Dari situ aku mulai tersadar. Alasanku kesakitan adalah karena dia adalah dia. Tak ada alasan lain. Aku mungkin tidak merasakan sakit jika orang lain yang melakukannya. Mereka tidak menghiraukanku, tidak mendengarkan aku, menghinaku dan mengkritikku dengan tajam, aku tidak akan merasa kesakitan.


Hanya dia.


Sejak itu dia merubah sikapnya. Tak ada lagi nada-nada mengejek dari mulutnya. Tak ada lagi senyum jahil yang terukir di wajahnya. Tak ada lagi lelucon sinis tentangku. Dan aku kesepian. Tidak tahu bagaimana cara mengembalikannya. Namun, aku berusaha memperlihatkannya bahwa itu tidak mempengaruhiku. Aku tertawa walau telah kehilangan topengku. Kubuka semua kartu-kartu yang kusimpan di balik bajuku. Kuberikan semua isi hatiku yang tak pernah kukatakan pada orang lain. Dia pun menyambutnya dengan melakukan hal yang sama. Sungguhpun itu suatu kehormatan bagiku dan aku merasa berharga baginya.

Seolah menjelma nyaris serupa dengannya, pecahan diri dia yang dipercayakan padaku malah berakar pada jiwaku dan aku secara bertahap berubah menjadi dirinya, seorang alien.


Jujur, aku bahagia.

Tahukah dia?


Beberapa waktu berlalu, dia mengenalkanku pada makhluk-makhluk dari planet asalnya. Makhluk yang serupa dengan kami. Alien. Namun, aku mengenali atmosfir aneh di antara kami, terutama saat salah seorang gadis kaumnya ada di dekatnya. Nada-nada mengejek yang akrab, senyuman jahil yang dilontarkan, lelucon-lelucon yang tak lucu sama sekali. Rasa sakitku kian menggila melihatnya hingga akhirnya mulai mengikis akal sehatku. Aku mengambil peran antagonis. Bersikap defensif memusuhi di belakang mereka, menyebarkan benih-benih kepahitan dan ujungnya malah aku merasakan sakit yang lebih besar dari sebelumnya.


Kuputuskan aku menyerah dan berlari sejauh mungkin tanpa jejak. Butuh waktu yang sangat lama untuk memulihkan diri hingga aku bertemu makhluk lain yang mengingatkanku pada Sang Alien. Tapi, dia bukan alien yang datang dari luar angkasa. Dia adalah makhluk yang berasal dari pedalaman bumi tropis yang eksotis. Senyumannya sempurna dengan warna kulit nyaris ebony.


Aku lagi-lagi merasa sakit yang sama.


Dengan pola yang hampir sama pula. Nada-nada sinis yang memudar berubah menjadi sikap yang sangat berhati-hati. Tapi, kini giliran dia yang memanggilku 'Alien'.


Ya, baiklah aku mengaku. Aku memang berasal dari galaksi lain yang jaraknya triliunan juta tahun cahaya dari Bumi. Makananku adalah kabut di pagi hari dan berbicara dengan bahasa kalbu.


Nah, setelah aku mengaku, masihkah kau marah padaku, hai makhluk berkulit eksotis?

8 komentar:

Tuliskan kesan dan pesan anda. I only receive spam from friends only, please. Thank you.