Selasa, 13 Oktober 2009

Minta Maaf.

Masih terkenang oleh masa-masa dulu sewaktu gw belajar CCU di kuliah Inggris. CCU itu singkatan dari Cross Cultural Understanding, artinya adalah sebuah mata pelajaran yang mempelajari pemahaman budaya Barat dan membandingkannya dengan budaya Timur Indonesia. Wah, mata kuliah ini sangat menarik, apalagi kami diajar oleh dosen yang benar-benar tahu seluk-beluk orang Barat karena ia sudah terlalu lama tinggal di sana.

Banyak banget yang gw dapat dari sini. Dimulai dari sifat alami orang Barat yang menjadi alasan utama kenapa negara mereka sangat berkembang pesat, sampai pada kebiasaan dan hal lainnya. Tapi, ada satu hal yang membuat gw sangat kagum pada budaya Barat, sekaligus tertohok jika membandingkannya dengan budaya Indonesia. Well, bukan masalah waktu ngaret dan sifat bangsa kita yang pemalas juga sih. Itu sih semua orang juga tahu.

Yang paling buat gw malu sebagai orang Indonesia, adalah cara orang Barat meminta maaf.


Kalau orang Indonesia, mereka akan bilang, ”Sori ya....” atau ”Saya minta maaf sebesar-besarnya......”

Udah. Begitu doang.


Kalau orang Barat?

Sebagian besar, jika mereka benar-benar tulus ingin meminta maaf pada orang, mereka akan bilang,

”I’m sorry. How can I make it right?”


How can I make it right?’, seolah bentuk pernyataan bahwa mereka akan bersedia melakukan apapun untuk membayar kesalahan mereka. Tidak hanya mengakui kesalahan, tapi mereka juga sungguh-sungguh menyesal. Terkadang jika orang meminta maaf, kita mungkin tidak bisa melihat betapa menyesalnya mereka saat menyadari kesalahan mereka, dan mungkin mereka pun tidak akan kapok untuk melakukannya lagi. Tapi, budaya pernyataan sederhana orang Barat juga secara tidak langsung menyatakan bahwa mereka akan berusaha tidak akan melakukan kesalahan lagi.


Hey, bagaimana dengan para koruptor negeri ini?

Bagaimanakah cara mereka membayar kesalahan saat mengambil hasil keringat rakyat untuk dirinya sendiri?

Meminta maaf saja tidak pernah.

Bagaimana dengan aparat polisi yang selalu menipu orang-orang di jalan?

Kapolres pernah bilang bagaimana mereka akan membayar kesalahan mereka pada rakyat setelah aparatnya melakukan kejahatan?

Yang sederhana aja deh, bagaimana dengan toko-toko di Indonesia, iklan-iklan lebay di televisi mengenai produk mereka yang ternyata menipu dan mencurangi konsumen?

Pernahkah mereka membayar kesalahan mereka pada konsumen atau mengganti uang rugi ataupun memberikan barang baru jika barang yang dibeli cacat?

Bagaimana dengan diri anda sendiri?

Apakah anda bersedia melakukan apa saja untuk membayar kesalahan anda?



PS: Indonesia, ayo mulai budayakan perkataan ‘How can I make it right?’ setelah anda meminta maaf.



13 komentar:

  1. Sekedar cerita aja, misalnya kalau ada orang lewat di depan kita tuh, jadinya kan ganggu pemandangan, maka paling-paling mereka bilang, "Permisi. Maaf ya mau numpang lewat.."
    Kita persilahkan aja.
    Tapi sesudahnya dia lewat lagi di depan kita, padahal dia sudah tahu bahwa kalau dia lewat tuh ganggu pemandangan.
    Intinya sih, kesalahan diulang-ulang terus biarpun sang pelakunya sudah tahu bahwa kesalahannya itu mengganggu orang lain.

    Budaya negeri kita terlalu permisif, akibatnya sering disalahgunakan. Itu masalah utama kita.

    BalasHapus
  2. I'm sorry, How can I make it right?

    BalasHapus
  3. kucoba untuk bersedia melakukan apa saja wis untuk menebusa kesalahan tapi dgn catatan gak yg aneh2 to, masih masuk akal penebusanya;)
    salam kenal dari wen

    BalasHapus
  4. yah..susah sekali emmang untuk memperbaiki kesalahan. sungguh2 memperbaiki kesalahan

    BalasHapus
  5. Hampir setiap hari, di kantor, di rumah, di jalanan, di mana saja, perlakuan tidak menyenangkan akan selalu kita alami dan tentu saja hal tersebut membuat hati tidak nyaman. Seringkali kita membiarkan perasaan itu menggelayuti layar hati dan tidak jarang kita menumpuk-numpuknya menjadi gunungan kekesalan. Dapat dipastikan ia menggerogoti pikiran dan menekan perasaan. Kita sadar bahwa perasaan itu sangat membebani kita, membawa kepedihan berlanjut namun entah mengapa kita betah berlama-lama memendamnya. Bukankah itu berarti sepenuhnya kita menyerahkan kehidupan emosional kita kepada keadaan yang di luar kontrol dan kendali kita.

    Barangkali sudah saatnya kita belajar menggunakan kata memaafkan.Ya. Memaafkan sebuah kata yang secara verbal gampang kita ucapkan namun seringkali dalam kenyataannya kata tersebut tidak cukup mujarab untuk menghapus perasaan tidak nyaman yang menggelayut di hati.

    Lalu, apa yang salah dengan kata maaf ?. sepertinya sudah tidak mujarab lagi untuk menentramkan hati. Barangkali saatnya kita merubah pandangan kita tentang kata ini. Memaafkan bukanlah sesuatu yang kita berikan kepada orang lain, memaafkan bukan pula sebagai tanda kelemahan kita apalagi mengait-ngaitkannya dengan harga diri segala.

    Memaafkan adalah sesuatu yang kita berikan untuk diri sendiri. Ia adalah suatu hadiah yang layak diterima oleh diri kita ,ia akan mendatangkan rasa nyaman, ia akan menjadikan diri kita sebagai tuan yang akan menentukan keadaan / cuaca emosional kita sehingga tidak lagi terombang ambing dengan apa yang diucapkan atau dilakukan orang terhadap kita.

    BalasHapus
  6. wow
    bang kabasaran komennya udh banyak banget hehhee
    well...kata maaf memang udh terlalu digampangkan di tempat kita ini jadinya klo ada yg minta maaf rasanya kek blom lengkap.

    ya balik ke diri kita ndiri aja, semoga kita gak melakukan kesalahan yg aneh2 kpd org lain

    BalasHapus
  7. maaf memang gak mudah diucapkan tapi yg penting dari dalam hati aja. btw, kirim aja ke shianno@yahoo.com cerpennya.

    kalo mo kirim ke majalah, aku ada alamat imelnya. cek di blog graha sastra.

    BalasHapus
  8. http://tips-write-shortstory.blogspot.com/2009/08/alamat-e-mail-redaksi-majalah.html

    di postingan ntu ada alamat redaksi majalah.

    BalasHapus
  9. gak cuma di barat Nez, di Jepang lebih ekstrim lagi, ketika awal gw di sana, mereka kan nawarin minuman beralkohol, karena gw Muslim, gw nolak, mereka bener2 minta maaf, dan sejak saat itu, tiap kali ada acara, temen2 jepang gw ngelarang gw minum minuman beralkohol, bahkan ketika kira2 tiba waktu sembahyang, mereka yang ngingetin gw, padahal secara mereka kan tidak terlalu concern dalam agama (this is how they make something 'right'), hehehe...

    BalasHapus
  10. good..good..ikutan trenyuh membaca kalimat "how can i make it right". tapi aku pernah ketemu bule yang nginjak kakiku dan cuma bilang "sorry" trus nyelonong aja. hihihi

    ternyata memang sifat individu masih berlaku di sini nes..:)

    BalasHapus
  11. @vicky: SETUBUH

    @el: kasih gw pizza extra large

    @wendy: ya, saya juga maunya begitu. Salam kenal juga, btw.

    @nietha: yes, kadang susah untuk memperbaiki kesalahan.

    @Sultan:betul, dikau betul.

    @Linda: Setubuh

    @teh pani: aye emang udah liat2 di tempat teteh sebelum teteh posting di sini. Cerpen udah aye kirim ke email mbakyu. Ditunggu komennya ya.

    @Henny: Kan' aye bilang kalo emang mau terdengar tulus permintaan maafnya, makanya bilang 'itu'

    BalasHapus
  12. Aku dah lama melakukan hal itu, Nez...
    Kalo aku minta maaf, aku pasti bertanya apa yangbisa aku lakukan untuk menebus salahku :)

    BalasHapus

Tuliskan kesan dan pesan anda. I only receive spam from friends only, please. Thank you.